Amangkurat I

Amangkurat I dan Pangeran Alit.

Amangkurat V

Tersingkirnya Pakubuwana II, Kapten Van Hohendorf.dan Bupati Cakraningrat.

Pangeran Diponegoro Bag. 9

Pergerakan Raden Ronggo.

Hamengkubuwono VIII

GPH. PURBAYA, Sekolah Taman Siswa Nasional, Rumkit Panti Rapih, dan Konggres Perempuan Nasional.

Pangeran Samber Nyowo

Mangkubumi / Hamengkubuwono I, Adipati Anom / Pakubuwono III.

Minggu, 11 Oktober 2020

Pangeran Diponegoro 4

 DIPONEGORO PAHLAWAN GOA SELARONG.

Bagian 4.

Oleh: Anggoro Ruwanto

LELONO.

Diponegoro merasakan beratnya persoalan keraton Jogja dimana intrik diantara para pengeran, diantara para selir, dan diantara para pejabat istana, juga perebutan pengaruh pada pejabat Residen Belanda dan Inggris, pasti akan merembet ke wilayah nya dan akan mengusik damai sejahtera rakyatnya.

Oleh sebab itu Diponegoro mengambil tekad untuk memulai Lelono ( pengembaraan untuk mendapatkan kebijaksanaan yang lebih dan menemukan kematangan spiritual oleh semua kesengsaraan yang dialami dan menemukan bimbingan dari guru rohani ).


PERSIAPAN.

Awal musim kemarau dibulan Mei - Oktober Diponegoro mulai mempersiapkan diri.

- Pertama-tama : dalam lingkup kecil keluarga dan santri dia mengadakan ritual / slametan sederhana, dan minta didoakan dalam - perjalanan Lelono nya supaya lancar,

- Kedua : mengganti namanya menjadi Syekh Ngabdurahim, untuk perjalanan Lelono ini. Nama ini diusulkan oleh Syekh Al Anshari penasehat spiritual nya.

- Ketiga : memotong rambutnya, tidak lagi menggelung rambut panjangnya seperti adat nya ningrat Jawa.

- Ke empat : mengganti pakaian / busananya dengan pakaian santri rendahan, yaitu kain sarung kasar, baju luar putih lengan panjang tanpa kancing, baju dalam model Koko. Dan sorban putih memulas kepalanya.


LELONO.

Pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang Diponegoro sudah melangkah jauh dari Tegalrejo. Kearah selatan... Dimulailah pengembaraan nya dengan kunjungan ke pesantren-pesantren dan berguru pada para kiai dan alim ulama wilayah Gading, Grojogan, Sewon, Wonokromo, Jejeran, Turi, Pulokadang, Kasongan dan Congkelan.

Di setiap pondok pesantren yang dia kunjungi dia berbaur dengan para santri dan mengerjakan apapun yang mereka kerjakan dan makan apapun yang mereka makan.

Anehnya walaupun sudah berusaha menyamar Serapi mungkin tetap saja para Kiai dan Alim ulama masih banyak yang mengenalnya.

Sehingga sikap hormat / kagum mereka kepadanya makin tinggi.


TIRAKAT.

Setelah berbulan-bulan berkelana / ngenger dari pesantren ke pesantren mulailah Diponegoro mengambil tekad yang lebih tinggi, yaitu mendekat kan diri pada para leluhurnya untuk mendapatkan sawab / urapan / curahan kesaktian mereka.

Jadi dia mulai menyepi dan bermeditasi di makam para sesepuh mataram juga di goa-goa tempat para leluhurnya pernah singgahi.


Penglihatan pertama Diponegoro terjadi di goa Song Kamal di wilayah dusun Jejeran sebelah selatan Jogja. Dimana Sunan Kalijogo sesepuh sembilan wali yang terkenal di Jawa. Mendatangi nya dalam rupa seorang laki-laki dengan wajah bersinar dan mengatakan kelak Diponegoro akan jadi raja. Dan ramalan nya yang penuh teka teki berbunyi demikian " Tidak ada yang lain, Engkau sendiri hanyalah sarana, namun itu tidak akan lama, hanya agar terbilang diantara para leluhur, Ngabdurahim kamu harus segera pulang "  Setelah mengatakan demikian perlahan lahan penglihatan itu menghilang.

Diponegoro melanjutkan pengembaraannya ke Imogiri, di Bengkung di suatu tempat ditepi kolam yang terletak diujung tangga yang menuju ke makam-makam para raja-raja, ia bersemedi disitu selama seminggu, karena Diponegoro tahu persis bahwa disitulah kakek moyang nya, yaitu Sultan Agung sering menyepi, dimalam terakhir ada tanda merah darah sebesar piring yang melekat pada kelambu / tirai makam Sultan Agung..yang  kemudian diterangkan oleh juru kunci Imogiri yang bernama Kiai Balad. Bahwa akan ada perang besar yang membuat Jawa banjir darah.


DIPANTAI SELATAN.

Diponegoro melanjutkan Lelono nya makin mengarah ke selatan, tujuannya jelas laut kidul, namun sebelum sampai sana dia menyempatkan diri dulu untuk bermeditasi di goa siluman tempat bersemayamnya roh halus Dewi Genowati wakil dari ratu pantai Selatan yaitu Nyai Roro kidul. lalu melanjutkan perjalanannya lagi dan bermeditasi beberapa malam di goa Surocolo di tepi kiri kali Opak di kecamatan Gamelan - Gunung kidul.

Namun dikedua gua itu Diponegoro tidak mendapatkan penglihatan atau wangsit apapun, sehingga dia melanjutkan perjalanan nya dengan melintasi gunung kidul dan masuk ke gua Langse, gua dibatu karang yang menjorok ke laut dan ombak-ombak ganas berdebur-debur menghamtam i dinding nya. Tidak ada jalan khusus untuk bisa masuk kesana kecuali merambat dan menuruni dinding gunung karang dengan sangat hati-hati supaya tidak terhempas kebawah dan dilumat ombak untuk kemudian dihantam-hantamkan ke karang-karang terjal dan tajam.

Disinilah Diponegoro memulai semedi pati Geni ( mematikan ego dan hawa nafsu ) setelah beberapa hari saat ke diri annya mulai mengendap dan mulai masuk ke pencerahan tiba-tiba dia dikunjungi oleh ratu pantai selatan, Nyai Roro kidul. Yang dimulai dengan suatu pancaran sinar yang sangat kuat... Namun karena Diponegoro saat itu masih hanyut / trance dalam semedinya, dan tidak dapat diganggu, maka Nyai Roro kidul pun mengundurkan diri, sambil berjanji kelak akan datang lagi pada waktu yang tepat. 


Hal ini ditepati oleh Nyai Roro kidul berselang waktu 20 tahun kemudian. Saat Perang Jawa sedang pada puncaknya.

Dia datang disertai dua pengiringnya, yaitu Dewi Genowati roh penguasa Gua Langse dan Nyai Gadung melati, roh penguasa pantai Parangtritis, Saat Diponegoro sedang berkemah di Kamal, ditepi sungai Progo, kejadian sekitar pertengahan bulan Juli 1826.

Sang Ratu menawarkan bantuan kepada Diponegoro supaya bisa meraih kemenangan, tapi syaratnya Diponegoro harus meminta kepada Gusti Allah supaya Nyai Roro kidul bisa kembali sebagai manusia biasa.

Namun hal itu ditolak secara tegas oleh Diponegoro. Karena semua itu sudah digariskan oleh yang maha kuasa.

Pangeran Diponegoro 3

 DIPONEGORO PAHLAWAN GOA SELARONG.

Bagian 3.

Oleh: Anggoro Ruwanto

PERKAWINAN YANG PERTAMA :

Sekitar tahun 1803 Diponegoro menikahi putri kedua seorang guru agama dari daerah Sleman, desa Dadapan, Kiai Gede Dadapan.

Namanya Raden ayu Retno Madubrongto. Hubungan mereka sangat harmonis, karena memang saling mencintai sampai kelak lahir anak yang pertama, yaitu Raden Mantri Mohammad Ngarip. ( Diponegoro II ). 

Namun rumah tangga mereka terganggu dengan ulah Sultan Hamengkubuwono III ( ayah Diponegoro ) yang kecewa karena Diponegoro menikahi anak rakyat biasa.

Maka diadakanlah pernikahan politis dan yang lebih bergengsi. Atas rekayasa Sultan Hamengkubuwono III dan kerabat keraton, mereka memanggil Diponegoro untuk datang.


PERKAWINANNYA YANG KE DUA.

Dengan sedikit paksaan dan intimidasi, dinikahkanlah Diponegoro dengan Raden ayu Retno Kusumo atau Raden Ajeng Supadmi, putri Bupati Panolan ( Jipang Panolan / sekarang Cepu dan Randu blatung ) yaitu Raden Tumenggung Notowidjoyo III. 

Pesta pernikahan diadakan pada 27 February 1807 dengan sangat meriah. Dan juga dihadiri para pejabat Belanda. Namun perkawinan mereka tidak mendatangkan kebahagiaan dan hanya sebentar. Karena Raden ayu Retno kusomo sering mengejek istri pertama Diponegoro yang berasal dari kasta yang lebih rendah. Akhirnya perkawinan mereka berakhir ketika Raden ayu Retno Kusumo lebih memilih untuk tinggal dalam lingkungan Kaputren, keraton di jogjakarta.


PERGAULAN DIPONEGORO DENGAN ELITE KERATON YOGYAKARTA.

Ada beberapa keluarga / pejabat keraton yang tertarik mendalami agama islam, jadi ada kecocokan hati antara Diponegoro dengan mereka, diantaranya yang sering dikunjungi Diponegoro adalah : 

1. Raden ayu Danukusumo, seorang putri Sultan Hamengkubuwono I, istri dari Patih Danureja II, yang sangat menguasai tulisan Arab Pegon, dan mempunyai literatur Islam - Jawa. Selain itu Raden ayu Danukusumo juga ahli main catur dan lawan Diponegoro yang tangguh.

2. Raden Tumenggung Wiroguno murid dari Kiai Taptojani, ia pernah menikahi kakak perempuan Diponegoro, tetapi kemudian sangat dibenci karena selingkuh dengan ibu tirinya yaitu ratu Kedaton, istri resmi dari ayahnya ( Sultan Hamengkubuwono III ).

3. Mas Tumenggung Kartodirdjo II, Bupati di Sokowati, banyak mempunyai buku-buku Islam Jawa. Kelak jadi panglima tentara nya Diponegoro di wilayah Madiun.

4. Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al Ansari, laki-laki Arab Jedah, yang sering mengunjungi Diponegoro dengan pakain jubah putih dan sorban putih ( mungkin ini yang menginspirasi Diponegoro untuk memakai pakaian yang sama ). 

Selain bertukar ilmu agama, dia juga memberikan banyak informasi tentang dunia perpolitikan diluar Jogja kepada Diponegoro.

5. Ahmad ( menantu dari syekh Abdul Ahmad ) yang menetap di Tegalrejo, kelak dua orang Arab ini akan jadi penasehat perang Diponegoro.


PREMAN-PREMAN SAHABAT DIPONEGORO.

Mereka lebih dikenal sebagai kelompok wong Durjono. Yaitu para pelaku kriminal didunia hitam. Antara lain : 

1. Kelompok preman yang menguasai penyeberangan kali Progo, antara Mangiran dan Kamijoro.

2. Mantri Tuwo Buru, kelompok preman pemburu macan. Kelak merekalah yang mensuplai senjata dan memberikan tempat perlindungan bagi Diponegoro dan para pengikutnya.

Kontak-kontak Diponegoro, dengan para golongan hitam ini memancing komentar yang kurang baik dari pihak keraton.. hal ini tercatat dalam babad Diponegoro versi Surakarta, yang berbunyi " Pangeran kang akanthi wong urakan / Pangeran yang bergaul dengan orang brutal " juga dicatat di babad Kedung Kebo " Pangeran kang akanthi wong durjono, mereka adalah para perampok dan bukan petarung sejati, memasuki medan peperangan hanya untuk mengangkuti makanan "


PENILAIAN DIPONEGORO KEPADA PEJABAT KOLONIAL : 

Dalam pergaulannya kadang Diponegoro harus bertemu dan bercakap-cakap langsung dengan para pejabat kolonial, mereka berbahasa Melayu, walaupun bisa namun Diponegoro meladeninya dengan bahasa Jawa Ngoko ( Jawa kasar untuk orang kebanyakan ) Diponegoro pernah mengatakan " bahasa Melayu itu bahasa pitik "

1. Huibert Gerard Nahuys Van Burgst, Residen Jogja 1816 - 1822. Dikecam Diponegoro sebagai orang yang bermulut besar dan angkuh dengan seragam militer nya. Orang yang suka foya-foya dan menularkan gaya hidup Belanda pada para pejabat keraton.

2. John Crawfurd, residen Jogja 1811 - 1814 pria asal Scotlandia. Dinilai oleh Diponegoro sebagai orang yang sangat terpelajar, demikian yang dikatakannya" Saya tidak pernah mengenal satupun pejabat Belanda yang memiliki rasa welas asih kepada sesama, berwatak luhur. Crawfurd selalu mendiskusikan hal apa saja kalau tidak dengan ayah saya ( Hamengkubuwana III ) ya dengan saya. Dan ia memakai bahasa Jawa halus sebagai bahasa nya sendiri. Karena bahasa Melayu adalah bahasa pitik yang tidak ingin didengar oleh penguasa Jawa manapun " ( Knoerle, Journal 1830 : 41 )


Besok : perjalanan mistik Diponegoro.

Gambar : Dr. John Crawfurd residen Jogja  yang dikagumi oleh Diponegoro dimasa kolonial Inggris.

Pangeran Diponegoro 2

 DIPONEGORO PAHLAWAN GOA SELARONG.

Bagian 2.

Oleh: Anggoro Ruwanto

TEGALREJO: 

Pada saat wafatnya Ratu Ageng - 1803 Tegalrejo adalah wilayah yang benar-benar makmur, dengan aneka taman, kebun buah-buahan, kolam-kolam ikan, dan tembok bata yang mengelilingi nya.

Tempat tinggal Diponegoro luas dan tinggi,dan terbuat dari bata, disampingi rumah utama ada lagi dua bangunan berderet disamping kiri dan kanan nya dengan banyak ruang-ruangan, Tempat biasanya tamu-tamu menginap, disebelah kanan, dan ruang para pembantu disebelah kiri.

Dibagian belakang ada juga bangunan memanjang yang terpisah dari rumah utama terbagi atas berderet-deret ruangan. Untuk dapur, lumbung padi, tempat makanan kuda, dan mck.

Sedangkan dirumah utama, ada pendopo yang sering dipakai untuk pengajian tapi juga untuk pagelaran wayang dan klenengan gamelan.

Dua hal ini juga sangat disukai Diponegoro. Dengan makin banyaknya orang-orang / Anak-anak muda yang ingin nyantri di Tegalrejo, hal ini memunculkan keinginan Diponegoro untuk membangun mesjid batu yang besar.. sayangnya walaupun sudah banyak menghabiskan uangnya, kelak masjid itu harus ditinggalkan pada 20 Juli 1825, saat hampir selesai pembangunannya karena peperangan.


Diponegoro pernah berkata " Masjid selalu menyenangkan saya, orang tidak harus berdoa di dalamnya,tetapi masjid mengarahkan hati pada ketulusan agama " 


OLAH BATIN DIPONEGORO :

Seperti orang-orang Jawa kebanyakan, Diponegoro juga tidak meninggalkan ilmu kebatinan nya, dia sering bersemedi di gua-gua, arus sungai, dan tempat tempat keramat para wali.

Dipercaya banyak pengikutnya, Diponegoro banyak mempunyai ilmu Kanuragan dan kebatinan serta senjata-senjata pusaka. Antara lain tombak Kiai Rondhan dan keris Nogosiluman.

Pada awal perang jawa, 1825 saat Belanda meyerang kompleks Tegalrejo dan keluarga Diponegoro + para pengikutnya terdesak, Diponegoro dengan pukulan jarak jauh menghantam tembok Puri yang tebal dan membuat lubang besar supaya semuanya bisa meloloskan diri.


DIPONEGORO & KERATON.

Kehidupan Diponegoro yang bertentangan dengan gaya hidup para pangeran di keraton menimbulkan intrik tersendiri, 

Gaya hidup keraton yang duniawi berbeda jauh dengan gaya hidup Diponegoro. Bahkan menurut pengakuannya sendiri, dia jarang sekali mengunjungi keraton Jogja, dalam setahun paling banyak hanya tiga kali, yaitu pada waktu upacara gerebeg Maulud ( kelahiran nabi Muhammad Saw ), Gerebeg riyoyo bakdo ( Iedul Fitri ) dan gerebeg Qurban ( Iedul Adha ).

Itupun hanya karena Diponegoro takut pada kemarahan kakeknya ( Hamengkubuwana II ) dan kepada ayahnya ( putera mahkota yang kelak jadi Hamengkubuwana III ).

Dua hal pengecualian, yaitu dia terpaksa datang ke Keraton karena menerima nama dewasa ( Raden mas Ontowiryo ) dan saat menikahi anak perempuan seorang Bupati daerah luar.


MENJALIN HUBUNGAN DENGAN KOMUNITAS ISLAM.

Korp Suronatan, adalah perkumpulan santri-santri tentara keraton yang bersenjata, pertama kali dikenalnya waktu masih tinggal dengan ayahnya di Kadipaten, ada juga kelompok santri dan ulama yang kuat, mereka mendapatkan zakat dari Keraton. Diantaranya adalah : 

1. Penghulu keraton, kiai Mohammad Bahwi, yang kelak terlibat dalam peperangan dengan nama Mohammad Ngusman Alibasyah.

2. Haji Badaruddin, komandan korps tentara muslim Suronatan, yang sudah dua kali naik haji atas biaya Ratu Ageng.

3. Kiai guru Kasongan, anak perempuannya yang bernama Raden ayu Retno Kumolo dinikahi Diponegoro.

4. Kiai Topjani dari Sumatera yang berdomisili di Melangi, guru spiritual komunitas santri Jogjakarta, penerjemah teks-teks Islam yang sulit. Dalam babad Diponegoro, kiai Topjani inilah yang malam-malam datang ke Tegalrejo untuk menemui Diponegoro dan mengatakan bahwa sudah saatnya perang suci / Sabil dimulai.

Kelak Kiai Topjani juga yang menjadi mediator antara kiai Mojo dengan Belanda supaya menyerah.

5. Kiai Mojo dari desa Mojo yang masih kerabat Diponegoro karena dilahirkan oleh saudara perempuan ayahnya ( Bu Lik / Tante ) namun tidak mau tinggal di istana.

Dan banyak lagi Ulama-ulama dan Kiai-kiai lain yang memberikan ilmunya.


Masih berusia 18 menjelang 19 Diponegoro hidup tentram di Tegalrejo bersama istri dan kawulonya ( rakyatnya ) juga dukungan para santri, Kiai dan alim ulama.

Makmur dan kaya, hidup nyaman bebas dari intrik-intrik istana. 

Sepertinya masa depan yang cerah dan penuh optimisme ada didepannya.


Benarkah demikian ?

Tunggu kelanjutannya.


Nb. Rujukan akan dimuat pada akhir kisah.

Pangeran Diponegoro 1

 DIPONEGORO PAHLAWAN GOA SELARONG.

Masa muda (Bagian 1):  Ratu Ageng dan Tegalrejo.

Oleh: Anggoro Ruwanto

SEKILAS :

Diponegoro lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dari ibu yang merupakan seorang selir (garwa ampeyan), bernama R.A. Mangkarawati, dari Pacitan dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari naik tahta bergelar Hamengkubuwana III.( Baca postingan saya Hamengkubuwana III di seri Amangkurat ) 


Pangeran Diponegoro sewaktu dilahirkan bernama Bendara Raden Mas Mustahar, setelah dewasa diubah menjadi Bendara Raden Mas Antawirya.Nama Islamnya adalah Ngabdul Kamid.

Setelah ayahnya naik tahta menjadi Sultan Hamengkubuwono III, Bendara Raden Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara.


ASAL USUL :

Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785 tepat menjelang fajar, saat sahur pada bulan ramadhan, ( Jawa Bulan Sura ).

Ayahnya baru berumur 16 tahun saat Diponegoro lahir.

Namun menjelang usia usia 7 tahun Diponegoro di boyong / dikeluarkan dari Kaputren dan dibawa nenek buyut nya ( Ratu Ageng ) untuk menemaninya diperkebunan Tegalrejo. Tiga kilometer jauhnya dari keraton. Arahnya ke barat laut.


RATU AGENG : 

Ratu Ageng adalah permaisuri Hamengkubuwana I. Setelah menetap di Tegalrejo disebut Ratu Ageng Tegalrejo, ayahnya adalah Kiai Ageng Derpoyudo, ulama kondang di Majang Jati.

Ratu Ageng mempunyai darah bangsawan dari Sultan kerajaan Bima, Abdul Kohir I. Yang menurun pada kakeknya Kiai Ageng Datuk Sulaiman yang menikahi putri seorang ulama terkemuka dari Jawa timur. Kiai Wiroyudo - Sokawati.

Jadi Ratu Ageng adalah perempuan yang amat Sholeh dan kuat dalam pengamalan agamanya, hal inilah yang kelak dia tanamkan dalam hati dan pikiran buyutnya ( Diponegoro ).

Ratu Ageng juga amat rajin membaca semua kitab-kitab agama, baik kitab kuning maupun terbitan timur tengah. Namun dia juga amat menjunjung tinggi adat dan nilai-nilai budaya Jawa.

Pula Ratu Ageng adalah seorang administrator yang baik dia lah yang berinisiatif membuka hutan dan menjadikan nya perkampungan Tegalrejo ( lahan yang makmur ) dan mengatur dengan baik para pengikutnya / rakyatnya hingga benar-benar mengalami hidup makmur. Juga seorang pebisnis yang mumpuni, karena menjalin hubungan dagang dengan para pedagang dari pantai Utara. Seperti Semarang dan Jepara. Dan selalu memperoleh keuntungan yang bagus.


Walaupun waktu mengangkat Diponegoro sebagai asuhannya Ratu Ageng sudah berusia 65 tahun tapi masih energik luar biasa, mungkin karena waktu remajanya pernah menjadi komandan prajurit wanita yang bertempur bersama suaminya - Hamengkubuwana I melawan Belanda di perang Giyanti ( 1746 - 1755 ).

Seluruh sifat dan didikan Ratu Ageng inilah yang kemudian membentuk pribadi Diponegoro.


ALASAN RATU AGENG KELUAR KERATON : 

Banyak alasan yang membuat Ratu Ageng kecewa dan membuatnya hengkang dari keraton dan membuka lahan baru / Tegalrejo.

1. Puteranya ( Hamengkubuwana II ) tidak perduli pada agama Islam, jarang Jumat an di masjid Ageng. Dan tidak mengerjakan rukun Islam dengan tertib.

2. Kesukaan nya madat ( mengisap candu )

3. Intrik dan perselisihan terus menerus diantara Anak-anak nya.

4. Belanda yang makin turut campur hampir pada semua permasalahan keraton karena sangat dekatnya hubungan Patih Danureja II dengan para pejabat Belanda.


Diponegoro turut mengutuk i mereka ( para bangsawan keraton ) diantaranya Raden tumenggung Sumodiningrat, Raden Adipati Danureja II, dan Raden Ronggo Prawirodirjo. Sebagai orang-orang pendosa yang tak terampuni, kelak akan menemui kematian secara mengenaskan ( babad Diponegoro, II:46 )


Saat Ratu Ageng menjelang kematiannya 17 Oktober 1803, dia masih sempat berpesan kepada puteranya ( Hamengkubuwana II ) begini " Sultan, lorong yang aku harus jalani itu sulit, dan sekarang aku merasa sesungguhnya aku ini tak lebih daripada manusia biasa, anakku ingatlah, Meskipun engkau sekarang ini raja, sesudah kematian mu, engkau tak lebih daripada seorang Batur / kuli / pembantu. Jadi hiduplah secara wajar "

Pada pukul 15.00 Ratu Ageng wafat, dan pemakaman nya diiringi prosesi ratusan rakyatnya juga para kerabat keraton kecuali puteranya sendiri. HAMENGKUBUWONO II dan cucunya yang kelak jadi Sultan Hamengkubuwono III, mereka mengikuti prosesi itu hanya sampai alun-alun selatan, lalu pulang ke Keraton karena tersinggung dengan perkataan Ratu Ageng, yang paling terpukul dalam kedukaan ini adalah Diponegoro yang turut berjalan kaki sambil berkali-kali mengusap air matanya yang terus menetes, sejauh 18 km arah selatan dari Jogjakarta, yakni kepemakaman raja-raja Imogiri.


DIPONEGORO DI TEGALREJO :

Suasana padesaan Tegalrejo tentu jauh sekali dari suasana keraton yang selalu ramai. Di Tegalrejo Diponegoro belajar hidup sederhana dan bergaul dengan semua rakyat jelata tanpa perlu terikat pada tatakrama yang ketat.


Kadang apabila tiba masanya menanam atau memanen padi tanpa sungkan-sungkan dia ikut masuk sawah berbaur dengan para petani. Kadang dia juga berkelana ke pantai selatan, Gowa langse dan Gowa Selarong, kadang juga ke pasargede Imogiri, 


Diponegoro sangat memperhatikan bagaimana nenek buyut nya mengelola pertanian dan perkebunan nya, juga caranya dia berdagang dengan para saudagar dari pantai Utara. 

Hal ini mempengaruhi caranya dia mengelola

keuangan, menjadikannya sangat irit / hemat. 

Diponegoro adalah satu-satunya Pangeran sezamannya yang tidak terlibat hutang, judi dan kesenangan lain, dan dia lah satu-satunya Pangeran diluar kraton yang mempunyai penghasilan amat besar dari tanah-tanah nya, dan perdagangan nya, tanpa melakukan pemerasan. ( Kelak kekayaan nya inilah yang menopang dana peperangan nya ) Van der Kemp residen Manado sampai berkomentar " Diponegoro adalah Pangeran yang amat hati-hati dengan uangnya bahkan sampai batas kemiskinan "


Pengaruh keagamaan yang kuat dari Ratu Ageng juga membuat Diponegoro muda senang bergaul dengan para ulama-ulama desa maupun kiai-kiai pesantren. Walaupun tidak pernah nyantri secara khusus namun ilmu agama nya melebihi para santri karena kiai-kiai dan Ulama-ulama yang menghormati Ratu Ageng juga menghormatinya. Kadang dalam kunjungan-kunjunga nya mereka secara khusus mengajar Diponegoro, sampai berhari-hari. Demikian pula kadang Diponegoro yang mengunjungi mereka dan mondok sampai berhari-hari untuk menimba ilmu.


DIPONEGORO AHLI WARIS TEGALREJO : 

Diponegoro ditinggal wafat nenek buyutnya pada waktu umur 18 tahun. Ia sekarang tinggal sendirian di Tegalrejo menggantikan kedudukan Ratu Ageng. Mengelola tanah pertanian, tanah tegalan, mengatur rakyat nya, berdagang hasil bumi dengan para saudagar pantai Utara.. menjalin hubungan dengan semua kasta di wilayahnya.


Nb : Rujukan akan disertakan pada akhir episode.


BAGAIMANA KAH KONDISI TEGALREJO SESUNGGUHNYA ? :

ada dibagian 2

Hamengkubuwono X

 Hamengkubuwono X ( seri Amangkurat ): Mempunyai 5 orang putri, 3 Sabdatama dan Menjadi Gubernur.

Oleh: Anggoro Ruwanto

SEJENAK MENGENANG SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX.

Bagi warga DI Yogyakarta yang usia diatas 50 tahun, tentu bisa mengenang kiprah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau adalah Raja Kasultanan Yogyakarta, Kepala Daerah DIY, mantan Wakil Presiden RI, pejuang dan pahlawan negara. Ini adalah ayah dari Sri Sultan HB X yang saat ini memerintah.


Almarhum Sultan HB IX dikenal sebagai pemimpin yang amat sangat merakyat dan dicintai rakyat. Beliau sering blusukan ke pasar-pasar bukan untuk cari dukungan, tapi ingin membantu warga miskin. Beliau sudah kaya dan terhormat dari lahir sehingga tidak butuh pencitraan. Sejarah mencatat, beliau punya peran besar dalam kemerdekaan RI dan upaya mempertahankan kemerdekaan. Sampai-sampai beliau dan Bung Karno berinisiatif memindahkan ibukota ke Jogja untuk mempertahankan kemerdekaan, serta beliau membangunkan gedung Istana Negara di Yogyakarta (sampai sekarang masih ada gedungnya, disamping Malioboro, seberang Benteng Vredeburg).


Sejarawan mencatat, beliau beberapa kali ditawari menjadi Presiden dan beberapa kali berkesempatan menjadi Presiden tapi beliau tidak mau. Beliau hanya sekali menjadi Wapres (jaman Soeharto) dan itupun hanya satu periode dan setelah itu tidak mau lagi dipilih.


Kecintaan warga DIY terhadap almarhum sangat tinggi. Wajar ketika beliau wafat tahun 1988, sepanjang jalan dari Keraton hingga Imogiri Bantul (tempat pemakaman) dijejali para pelayat. Diatas 500 ribu pelayat. Guiness Book Of International Record mencatat peristiwa itu sebagai jumlah pelayat terbanyak di dunia yang pernah ada. Koran dan media besar nasional pun menjadikannya sebagai topik bahasan utama: perginya pemimpin besar, pembela rakyat nan sejati.


HAMENGKUBUWONO X.


Tempat lahir: Daerah Istimewa Yogyakarta

Tanggal lahir: 2 April 1946.


Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah raja Kesultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998. Ia lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.


Penobatan Hamengkubuwono X sebagai raja dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia merupakan anak laki-laki tertua dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan istri keduanya, RA Siti Kustina.

Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM. Ia sempat memimpin Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama).


BRM Herjuno Darpito menikah dengan Tatiek Drajad Suprihastuti, putri dari Kolonel Radin Subanadigda Sastrapranata, pada tahun 1968. Ia memiliki lima orang putri dari pernikahan ini. Sri Sultan HB X tidak memiliki selir.

PUTRI SRI SULTAN HB X.

GRA Nurmalita Sari/GKR Pembayun (menikah dengan KPH Wironegoro)

GRA Nurmagupita/GKR Condrokirono (menikah dan bercerai dengan [KRT] Suryokusumo)

GRA Nurkamnari Dewi/GKR Maduretno (menikah dengan KPH Purbodiningrat)

GRA Nurabra Juwita/GKR Hayu (menikah dengan KPH Notonegoro)

GRA Nurastuti Wijareni/GKR Bendoro (menikah dengan KPH Yudanegara)

Karena tidak mempunyai anak laki-laki sebagai penerus nya, maka hal ini menjadi gosip panas di masyarakat Jogja.

Oleh sebab itu Sri Sultan kemudian mengambil inisiatif :

Pada tahun 2015 , Sri Sultan HB X mengeluarkan serangkaian titah utama raja atau Sabdatama yang dalam konsep kekuasaan raja memiliki kekuatan besar dan harus dipatuhi rakyat.


Sabdatama Sultan HB X yang pertama ialah rakyat diminta untuk tidak lagi membicarakan suksesi kerajaan karena suksesi kerajaan ialah mutlak menjadi kekuasaan raja.


Sabdatama kedua ialah penggantian nama kebesaran raja dari Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono, serta penghilangan atribut yang menyertai gelar raja sayidin panatagama kalifatulah.


Sabdatama terakhir ialah pemberian gelar putri tertuanya, GKR Pembayun, dengan gelar GKR Mangkubumi.


Sabdatama terakhir itu dapat dimaknai sebagai pengangkatan GKR Pembayun sebagai putri mahkota atau calon pengganti raja.


Ketiga sabdatama HB X itu mengundang polemik pro dan kontra di kalangan masyarakat, karena belum pernah terjadi sebelumnya raja Jawa dari keturunan Mataram Islam memberi gelar mangkubumi kepada seorang putri perempuan. Juga belum pernah terjadi dalam sejarah kerajaan Islam di Yogyakarta itu dipimpin seorang raja perempuan atau ratu.


KEGIATAN ORGANISASI : 

Hamengkubuwono X aktif dalam berbagai organisasi dan pernah memegang berbagai jabatan diantaranya adalah ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY. Pada 2010, bersama dengan Surya Paloh, Sri Sultan Hamengkubuwono X mencetuskan pendirian PARTAI  NASIONAL DEMOKRAT. ( NASDEM )


MENJADI GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta :

Setelah Paku Alam VIII wafat, dan melalui beberapa perdebatan, pada 1998 ia ditetapkan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masa jabatan 1998-2003. Dalam masa jabatan ini Hamengkubuwono X tidak didampingi Wakil Gubernur. Pada tahun 2003 ia ditetapkan lagi, setelah terjadi beberapa pro-kontra, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Kali ini ia didampingi Wakil Gubernur yaitu Paku Alam IX.


Sebagai Gubernur, ia tidak menguber penghargaan dan piagam pengakuan. Menurutnya, peradaban kota memerlukan sentuhan kasih dan hati nurani,


"Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita." (Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta)


Menjadi Jogja Menjadi Indonesia.

"Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia"


Kalimat ini disampaikan dengan penuh penekanan oleh Gubernur DIY Sultan HB X dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29 di depan Gerbang Kantor Gubernur DIY Kepatihan, Yogyakarta.


"Menjadi Jogja, menjadi Indonesia", dimaknai bahwa karakter Jogja akan selalu menguatkan Indonesia.


Mahasiswa, seniman, akademisi, wisatawan, dan terutama masyarakat Jogja diharapkan terus membawa nilai-nilai ke-Jogja-an ke berbagai titik di Indonesia.


Nilai-nilai tersebut antara lain:

1- 'Hamemayu Hayuning Bawono', yang menciptakan kenyamanan.

2- 'Manunggaling kawula Gusti', yang mengajarkan ketauladanan.

3- 'Golong gilig', yang mencerminkan gotong royong.

4- 'Watak Satriya: Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh' yang dimaknai sebagai jati diri yang kuat, tetapi tetap terbuka.


Gempa Jogja .

Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang terjadi pada bulan Mei 2006 dengan skala 5,9 sampai dengan 6,2 Skala Richter yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.


Kiprah Nasional.

"Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita" - Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi Hamengku Buwono X di Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta.

Pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton 7 April 2007, Ia menegaskan tekadnya untuk mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.


Gelar kehormatan .

Pada 27 Desember 2011, ia menerima gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Gelar tersebut karena kiprahnya dalam seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisi dan kontemporer sejak 1989.


Sayangnya Jogja sekarang jauh dari apa yang dicita-citakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. 

Dimana kasus intoleransi makin meruyak.


Nb : episode selanjutnya DIPONEGORO.

Hamengkubuwono IX

Hamengkubuwono IX ( Seri Amangkurat ): Menentang Belanda & Jepang, Berkorban harta dan nyawa, Merencanakan serangan umum 1 Maret 1949, Larangan memiliki tanah bagi warga Tionghoa, Bapak Pramuka Indonesia.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Sri Sultan Hamengkubuwana IX atau Gusti Raden Mas Dorodjatun.

Lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun ) adalah seorang sultan yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Memerintah antara tahun 1940-1988, beliau adalah penguasa Yogyakarta terlama dalam sejarah (48 tahun). selain itu pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973 dan 1978 dan juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia serta pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.


Hamengkubuwana IX

ꦲꦩꦼꦁ​ꦑꦸꦨꦸꦮꦤ꧇꧙꧇


Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sultan Yogyakarta ke-9

Bertakhta

1940–1988

Penobatan

18 Maret 1940


JABATAN KENEGARAAN :


Wakil Presiden Indonesia ke-2

Mulai menjabat

23 Maret 1973–23 Maret 1978


Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia ke-1

Mulai menjabat

25 Juli 1966–29 Maret 1973


Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5

Mulai menjabat

6 Sept 1950–27 Apr 1951


Menteri Pertahanan Indonesia ke-3

Mulai menjabat

15 Juli 1948–20 Des 1949


Menteri Negara Indonesia

Mulai menjabat

2 Okt 1946–20 Des 1949


Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-1

Mulai menjabat

4 Maret 1950–2 Okt 1988


Ketua Kwartir Nasional ke-1

Mulai menjabat

14 Agustus 1961–27 Nov 1974

Pendahulu


Karier militer

Dinas/cabang

Insignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat

Lama dinas

1945–1953

Pangkat

Pdu letjendtni staf.png Letnan Jenderal


Perang/pertempuran

Revolusi Nasional Indonesia

Agresi Militer Belanda II

Serangan Umum 1 Maret 1949

Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil


Biografi :

Lahir di Yogyakarta dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun di Ngasem, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya ( ada dipostingan 25 ). Beliau memperoleh pendidikan di Europeesche Lagere School di Yogyakarta. Pada tahun 1925 ia melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool di Semarang, dan Hoogere Burgerschool te Bandoeng - HBS Bandung. Pada tahun 1930-an dia berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda.


Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Ngarsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Sénapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat". 

Sultan Hamengkubuwono IX juga terang-terangan menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa". 

Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta. Pada masa Jepang, Sultan melarang pengiriman pemuda pemuda untuk dijadikan romusa ( kerja paksa model Jepang ) dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I. Sultan Hamengkubuwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.


Sejak 1946 ia pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Sukarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 ia diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, ia menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden SOEHARTO yang represif / memakai ABRI untuk menghabisi lawan-lawan politiknya dan para pengkritik nya. seperti pada Peristiwa Malari dan Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya hanyut pada KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme )


DUKUNGAN PADA REPUBLIK INDONESIA.

Sultan Hamengkubuwana IX dalam masa Revolusi Nasional Indonesia sekitar akhir 1940-an.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian sangat buruk. Kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat akibat perang. Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda membuat perdagangan dengan luar negeri terhambat. Kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi di mana-mana, termasuk di Yogyakarta. Oleh karena itu, untuk menjamin agar roda pemerintahan RI tetap berjalan, Sultan Hamengkubuwana IX menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, baik untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.

Setelah Perundingan Renville, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer yang ke-2. Sasaran penyerbuan adalah Ibu kota Yogyakarta. Selanjutnya pada tanggal 22 Desember 1948 Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan para pembesar lainnya di tangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka. Sementara itu, Sultan Hamengkubuwana IX tidak ditangkap karena kedudukannya yang istimewa, dikhawatirkan akan mempersulit keberadaan Belanda di Yogyakarta. Selain itu, waktu itu Belanda sudah mengakui Yogyakarta sebagai kerajaan dan menghormati kearifan setempat. Akan tetapi, Sultan menolak ajakan Belanda untuk bekerja sama dengan Belanda. Untuk itu, Sultan Hamengkubuwana IX menulis surat terbuka yang disebarluaskan ke seluruh daerah Yogyakarta. Dalam surat itu dikatakan bahwa Sultan "meletakkan jabatan" sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengunduran diri Sultan kemudian diikuti oleh Sri Paku Alam. Hal ini bertujuan agar masalah keamanan di wilayah Yogyakarta menjadi beban tentara Belanda. Selain itu dengan demikian, Sultan tidak akan dapat diperalat untuk membantu musuh. Sementara itu, secara diam-diam Sultan membantu para pejuang RI, dengan memberikan bantuan logistik kepada para pejuang, pejabat pemerintah RI dan orang-orang Republiken. Bahkan di lingkungan keraton, Sultan memberikan tempat perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI. Pada Februari 1949, dengan bantuan kurir, Sultan menghubungi Panglima Besar Sudirman untuk meminta persetujuannya melaksanakan serangan umum terhadap Belanda. Setelah mendapat persetujuan Panglima Sudirman, Sultan langsung menghubungi Letkol Soeharto untuk memimpin serangan umum melawan Belanda di Yogyakarta. Serangan ini berhasil menguasai Yogyakarta selama sekitar enam jam. Kemenangan ini penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia masih terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Sesuai dengan hasil Perundingan Roem-Royen, maka pasukan Belanda harus ditarik dari daerah Yogyakarta. Pihak Belanda minta jaminan keamanan selama penarikan itu berlangsung. Untuk itu, Presiden Sukarno mengangkat Sri Sultan sebagai penanggung jawab keamanan dan tugas itu dilaksanakannya dengan baik. Pada tanggal 27 Desember 1949 ketika di Belanda berlangsung penyerahan kedaulatan, maka di Istana Rijkswik (Istana Merdeka) Jakarta, juga terjadi penyerahan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada Pemerintah RIS. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali mendapatkan kepercayaan untuk menerima penyerahan kedaulatan itu sebagai wakil dari pemerintahan RIS.


SERANGAN UMUM 1 Maret 1949 .

Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak sinkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, ialah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Suharto, ia baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.


LARANGAN WARGA TIONGHOA MEMILIKI TANAH :

Yang menarik dari beliau ialah sikapnya terhadap warga keuturuan Tionghoa. Belau orang yang sangat humanis dan tidak membeda-bedakan, namun urusan kebijakan pemerintahan beliau sangat tegas. Salah satu aturan peninggalan beliau ialah melarang warga keturunan Tionghoa untuk memiliki tanah di Jogjakarta, dalam artian tanah sebagai hak milik. Warga keturunan hanya boleh punya Hak Pakai atau Hak Guna Bangunan. Aturan ini sampai sekarang masih berlaku di DIY, dan ini salah satu keistimewaan DIY.


Aturan itu lahir karena ada sejarahnya. Yakni pada saat tahun 1948, atau tahun-tahun saat mempertahankan kemerdekaan RI, sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa lebih memilih membantu pasukan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia ketimbang ikut berjuang bersama elemen bangsa lainnya untuk mengusir Belanda. Dalam sejarah, ini dicatat sebagai Agresi Militer II Belanda, yakni Desember 1948. Saat itu komunitas Tionghoa yang ada di Jogja justru berpihak dan memberikan sokongan ke Belanda yang sebelumnya sudah menjajah Indonesia 350 tahun.


Sejak itulah Kanjeng Sultan Hamengkubuono IX kemudian mencabut hak kepemilikan tanah terhadap etnis Tionghoa di Yogyakarta. Tahun 1950, ketika NKRI kembali tegak dan berhasil dipertahankan dengan keringat dan darah, komunitas Tionghoa akan eksodus dari Yogyakarta. Namun Kanjeng Sultan HB IX masih berbaik hati dan menenangkan ke mereka bahwa meskipun mereka telah berkhianat kepada Negeri ini tetapi tetap akan diakui sebagai tetangga. “Tinggallah di Jogja. Tapi maaf, saya cabut satu hak anda, yaitu hak untuk memiliki tanah”.


Itulah kenapa hingga sekarang ini pengusaha Tionghoa tidak punya hak milik atas tanah di berbagai pusat bisnis di kota Jogja. Mereka hanya bisa punya hak guna atau hak pakai sampai jumlah tahun tertentu. Hal ini diperkuat bahwa pada 1975, Paku Alam VIII menerbitkan surat instruksi kepada bupati dan wali kota untuk tidak memberikan surat hak milik tanah kepada warga negara nonpribumi. Surat ini masih berlaku.


Surat instruksi tersebut mengizinkan warga keturunan memiliki tanah dengan status hak guna bangunan (HGB), bukan hak milik (SHM). Bila tanah tersebut sebelumnya dimiliki pribumi, lalu dibeli warga keturunan, maka dalam jangka tahun pemakaian tertentu tanah itu status kepemilikannya dialihkan pada negara.


Kalangan investor dan cukong sudah beberapa kali menggugat aturan itu dan mengadukan hal itu ke Presiden. Dalihnya ialah aturan itu dianggap rasis dan tidak adil. Para penggugat itu biasanya menyuruh dan mendanai LSM. Namun oleh Mahkamah Agung tetap tidak dikabulkan karena hal itu bagian dari keistimewaan DIY.


BAPAK PRAMUKA INDONESIA.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX adalah Bapak Pramuka Indonesia.

Sejak usia muda Hamengkubuwana IX telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan. Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX telah menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan). Pada tahun 1961, ketika berbagai organisasi kepanduan di Indonesia berusaha disatukan dalam satu wadah, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peran penting di dalamnya. Presiden RI saat itu, Sukarno, berulang kali berkonsultasi dengan Sri Sultan tentang penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya.


Pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Sukarno membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Panitia ini beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka dan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961.


Pada tanggal 14 Agustus 1961, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pramuka, selain dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan dan defile, juga dilakukan pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas (Ketua Mapinas adalah Presiden RI).


Sri Sultan bahkan menjabat sebagai Ketua Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka hingga empat periode berturut-turut, yakni pada masa bakti 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970 dan 1970-1974. Sehingga selain menjadi Ketua Kwarnas yang pertama kali, Hamengkubuwana IX pun menjadi Ketua Kwarnas terlama kedua, yang menjabat selama 13 tahun (4 periode) setelah Letjen. Mashudi yang menjabat sebagai Ketua Kwarnas selama 15 tahun (3 periode).


Keberhasilan Sri Sultan Hamengkubuwana IX dalam membangun Gerakan Pramuka dalam masa peralihan dari “kepanduan” ke “kepramukaan”, mendapat pujian bukan saja dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Dia bahkan akhirnya mendapatkan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Bronze Wolf Award merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan.


Atas jasa tersebutlah, Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka pada tahun 1988 yang berlangsung di Dili (Ibu kota Provinsi Timor Timur, sekarang negara Timor Leste), mengukuhkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.


PAHLAWAN NASIONAL : 

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri.


JABATAN YANG PERNAH DIEMBANNYA :

Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)

Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)

Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 – 11 November 1947 dan 11 November 1947 – 28 Januari 1948)

Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)

Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949)

Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 – 6 September 1950)

Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)

Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)

Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)

Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)

Ketua Federasi ASEAN Games (1958)

Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)

Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)

Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)

Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)

Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)

Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 – 23 Maret 1978)

Pahlawan Nasional 

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri


Literatur :

Roem, Mohammad. Tahta untuk Rakyat, Jakarta: Gramedia (1982)

Pour, Julius. Doorstood Nar Jogya, Jakarta: Gramedia (2010)

Referensi :

^ a b c Biografi singkat HB IX. Website resmi kraton Yogya. 2019. Diakses tanggal 21/07/2019

^ http://nusantarakini.com/2016/11/20/sikap-sri-sultan-hamengkubuwono-ix-terhadap-etnis-tionghoa.

Hamengkubuwono VIII

 Hamengkubuwono VIII (seri Amangkurat):

GPH. PURBAYA, Sekolah Taman Siswa Nasional, Rumkit Panti Rapih, dan Konggres Perempuan Nasional.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Sri Sultan Hamengkubuwana VIII adalah 

Putra ke 23 dari Sultan Hamengkubuwana VII (Sinuhun Behi) dari istri keduanya, GKR Mas.

Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (lahir di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, 3 Maret 1880 – meninggal di Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, 22 Oktober 1939 pada umur 59 tahun).

Adalah salah seorang raja di Kesultanan Yogyakarta yang bertahta dari tahun 1921-1939. Ia bernama asli Gusti Raden Mas Sujadi. Setelah dewasa menjadi GPH ( Gusti Pangeran Hario ) Purboyo. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta tanggal 8 Februari 1921. 


Perjalanan GRM. Sujadi alias GPH. Puruboyo sebagai penerus tahta Kasultanan Ngayogyakarta sesungguhnya melalui jalan yang panjang. Awalnya, Sri Sultan Hamengku Buwono VII telah mengangkat putra sulung GKR Hemas, yaitu GRM Akhadiyat, sebagai putera mahkota. Akan tetapi, tidak lama setelah dinobatkan sebagai putera mahkota, GRM Akhadiyat sakit hingga meninggal dunia. Sri Sultan Hamengku Buwono VII kemudian mengangkat GRM Pratistha sebagai pengganti putera mahkota sebelumnya. Putera mahkota kedua yang juga bergelar Adipati Juminah ini di kemudian hari gelarnya dicabut karena alasan kesehatan. Posisi putera mahkota untuk yang ketiga kali kemudian jatuh kepada GRM Putro. Nasib baik tidak berpihak kepada GRM Putro yang juga meninggal dunia akibat sakit keras. Akhirnya, pilihan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk didudukkan sebagai mahkota jatuh kepada GPH Puruboyo.


Tahun 1920 GPH. Puruboyo sedang menempuh studi di Belanda, ketika sang ayahanda Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengungkapkan niat untuk lengser keprabon. Mendengar hal ini, Residen Jonquire yang menjadi wakil pemerintah Belanda di Yogyakarta, mengusulkan kepada Gubernur Jendral van Limburg Stirum agar upaya pergantian tahta dipercepat.


Dikarenakan posisi GPH. Puruboyo masih di Belanda, maka van Limburg Stirum yang menyetujui gagasan tadi memerintahkan Jonquire agar mendesak Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk segera memanggil pulang GPH Puruboyo melalui telegram. Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyetujui usulan tersebut dan mengirimkan telegram pada awal November 1920. Di dalam telegram itu Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyampaikan agar Gusti Puruboyo jangan terlalu lama di Eropa karena para putera dan puteri, kerabat dan abdi dalem sudah menanti-nanti kepulangan beliau.


Setelah GPH Puruboyo setuju untuk pulang ke Yogyakarta dan dijadikan pengganti ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono VII memutuskan untuk lereh keprabon (turun tahta) dan beristirahat di Pesanggrahan Ambarukmo. Pada tanggal 8 Februari 1921, GPH Puruboyo kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. ( Dari mana dana-dana ini ? Sudah ada dipostingan sebelumnya ).

Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Leiden.


Pada masa pemerintahannya, ia banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah Bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang direhabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe. Ia juga merupakan salah satu orang pertama dari kalangan politikus papan atas Kota Yogyakarta yang mendukung perjuangan Kh. Ahmad Dahlan dalam pembentukan Muhammadiyah sebagai bentuk loyalitasnya pada Islam.


KIPRAH SUNAN HAMENGKUBUWANA VIII.

Kekayaan keraton yang cukup besar kala itu, dimanfaatkan sebanyak-banyaknya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk mendorong dunia pendidikan. Seperti ayahandanya, beliau juga mengharuskan putra-putrinya untuk menempuh pendidikan formal setinggi mungkin, bahkan bila perlu hingga ke Negeri Belanda.


Sekolah-sekolah, organisasi dan munculnya aktivis banyak berkembang di masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII . Sekolah Taman Siswa Nasional (berdiri 3 Juli 1922), Organisasi Politik Katholik Jawi (1923) dan Kongres Perempuan (1929) adalah contoh-contohnya.


Perhatian beliau di dunia kesehatan juga sangat besar, misalnya dengan mendukung pengadaan ambulans untuk Rumah Sakit Onder de Bogen (saat ini: Panti Rapih).


Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga banyak mengadakan perombakan/rehabilitasi bangunan. Bangsal Pagelaran, Tratag Siti Hinggil, Gerbang Danapratapa dan Masjid Gede adalah beberapa bangunan yang beliau perbaiki.


Di dalam lingkungan keluarganya sendiri, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga banyak melakukan terobosan. Hal tersebut terjadi bahkan semenjak sebelum menjadi Sultan. Salah satunya adalah dengan “menitipkan” anak-anaknya di luar lingkungan keraton. BRM Dorodjatun, yang kelak menjabat sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dari umur 4 tahun sudah dititipkan ke keluarga Belanda. Tidak ada inang atau pengasuh yang menjaga. Pangeran kecil itu dituntut untuk hidup mandiri dan merasakan hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat pada umumnya.


Langkah-langkah yang diambil oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII tersebut adalah cerminan dari sikap beliau yang berpedoman pada ungkapan “wong sing kalingan suka, ilang prayitane”, orang yang sudah merasakan nikmat akan hilang kewaspadaannya.


PENINGGALAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO VIII.

Seperti sudah disinggung di atas, di masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII Yogyakarta mengalami kemajuan pesat di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang arsitektur, bentuk fisik kraton saat ini adalah hasil perombakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Di bidang seni tari, banyak sekali tarian diciptakan pada era kepemimpinan beliau. Diantaranya adalah Beksan Srimpi Layu-layu, Beksan Gathutkaca-Suteja, Bedaya Gandrung Manis, Bedaya Kuwung-Kuwung dan masih banyak lagi. Pada masa ini pula, pembakuan terhadap pakem tari klasik Gaya Yogyakarta dimulai.


Masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga dikenal sebagai masa keemasan pentas wayang wong. Pementasan wayang orang besar-besaran hingga memakan waktu tiga hari banyak dan sering dilakukan di era ini. Lebih dari 20 lakon dikembangkan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Dari segi busana untuk Tari Bedaya, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII melakukan perubahan besar. Karya Tari Bedaya yang lahir pada era ini tidak menggunakan kampuh dan paes ageng. Di masa ini penari menggunakan jamang dan bulu-bulu, baju tanpa lengan serta kain seredan.


WAFATNYA SUNAN HAMENGKUBUWANA V III.

Pada tahun 1939, beliau memanggil putranya, BRM Dorodjatun yang sedang belajar di Negeri Belanda. Setelah keduanya bertemu di Batavia, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII kemudian menyerahkan pusaka keraton Kyai Joko Piturun kepada BRM Dorojatun. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa BRM Dorojatun telah ditunjuk menjadi penerus tahta sepeninggalnya.


Dua versi kematian nya.

1. Setibanya dari Batavia menjemput BRM Dorojatun tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat pada tanggal 22 Oktober 1939 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dimakamkan di Astana Saptarengga, Pajimatan Imogiri.

2. Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di kereta api di daerah Wates, Kulon Progo dalam perjalanan pulang dari Jakarta untuk menjemput GRM Dorojatun dari negeri Belanda.

( Dengan demikian perkataan Sunan Hamengkubuwana VII terbukti - lihat dipostingan 24 ).


Sri Sultan Hamengkubuwana VIII.

Memiliki delapan istri:

RA Siti Katina, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, tahun 1907

BRA Purya Aningdiya

BRA Puspitaningdiya

BRA Srengkara Aningdiya

RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi

BRA Rukmi Aningdiya

KBRAy Ratna Adiningrum

BRAy Ratna Puspita

Memiliki dua puluh empat putra: