Amangkurat I

Amangkurat I dan Pangeran Alit.

Amangkurat V

Tersingkirnya Pakubuwana II, Kapten Van Hohendorf.dan Bupati Cakraningrat.

Pangeran Diponegoro Bag. 9

Pergerakan Raden Ronggo.

Hamengkubuwono VIII

GPH. PURBAYA, Sekolah Taman Siswa Nasional, Rumkit Panti Rapih, dan Konggres Perempuan Nasional.

Pangeran Samber Nyowo

Mangkubumi / Hamengkubuwono I, Adipati Anom / Pakubuwono III.

Minggu, 11 Oktober 2020

Hamengkubuwono X

 Hamengkubuwono X ( seri Amangkurat ): Mempunyai 5 orang putri, 3 Sabdatama dan Menjadi Gubernur.

Oleh: Anggoro Ruwanto

SEJENAK MENGENANG SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX.

Bagi warga DI Yogyakarta yang usia diatas 50 tahun, tentu bisa mengenang kiprah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau adalah Raja Kasultanan Yogyakarta, Kepala Daerah DIY, mantan Wakil Presiden RI, pejuang dan pahlawan negara. Ini adalah ayah dari Sri Sultan HB X yang saat ini memerintah.


Almarhum Sultan HB IX dikenal sebagai pemimpin yang amat sangat merakyat dan dicintai rakyat. Beliau sering blusukan ke pasar-pasar bukan untuk cari dukungan, tapi ingin membantu warga miskin. Beliau sudah kaya dan terhormat dari lahir sehingga tidak butuh pencitraan. Sejarah mencatat, beliau punya peran besar dalam kemerdekaan RI dan upaya mempertahankan kemerdekaan. Sampai-sampai beliau dan Bung Karno berinisiatif memindahkan ibukota ke Jogja untuk mempertahankan kemerdekaan, serta beliau membangunkan gedung Istana Negara di Yogyakarta (sampai sekarang masih ada gedungnya, disamping Malioboro, seberang Benteng Vredeburg).


Sejarawan mencatat, beliau beberapa kali ditawari menjadi Presiden dan beberapa kali berkesempatan menjadi Presiden tapi beliau tidak mau. Beliau hanya sekali menjadi Wapres (jaman Soeharto) dan itupun hanya satu periode dan setelah itu tidak mau lagi dipilih.


Kecintaan warga DIY terhadap almarhum sangat tinggi. Wajar ketika beliau wafat tahun 1988, sepanjang jalan dari Keraton hingga Imogiri Bantul (tempat pemakaman) dijejali para pelayat. Diatas 500 ribu pelayat. Guiness Book Of International Record mencatat peristiwa itu sebagai jumlah pelayat terbanyak di dunia yang pernah ada. Koran dan media besar nasional pun menjadikannya sebagai topik bahasan utama: perginya pemimpin besar, pembela rakyat nan sejati.


HAMENGKUBUWONO X.


Tempat lahir: Daerah Istimewa Yogyakarta

Tanggal lahir: 2 April 1946.


Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah raja Kesultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998. Ia lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.


Penobatan Hamengkubuwono X sebagai raja dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia merupakan anak laki-laki tertua dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan istri keduanya, RA Siti Kustina.

Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM. Ia sempat memimpin Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama).


BRM Herjuno Darpito menikah dengan Tatiek Drajad Suprihastuti, putri dari Kolonel Radin Subanadigda Sastrapranata, pada tahun 1968. Ia memiliki lima orang putri dari pernikahan ini. Sri Sultan HB X tidak memiliki selir.

PUTRI SRI SULTAN HB X.

GRA Nurmalita Sari/GKR Pembayun (menikah dengan KPH Wironegoro)

GRA Nurmagupita/GKR Condrokirono (menikah dan bercerai dengan [KRT] Suryokusumo)

GRA Nurkamnari Dewi/GKR Maduretno (menikah dengan KPH Purbodiningrat)

GRA Nurabra Juwita/GKR Hayu (menikah dengan KPH Notonegoro)

GRA Nurastuti Wijareni/GKR Bendoro (menikah dengan KPH Yudanegara)

Karena tidak mempunyai anak laki-laki sebagai penerus nya, maka hal ini menjadi gosip panas di masyarakat Jogja.

Oleh sebab itu Sri Sultan kemudian mengambil inisiatif :

Pada tahun 2015 , Sri Sultan HB X mengeluarkan serangkaian titah utama raja atau Sabdatama yang dalam konsep kekuasaan raja memiliki kekuatan besar dan harus dipatuhi rakyat.


Sabdatama Sultan HB X yang pertama ialah rakyat diminta untuk tidak lagi membicarakan suksesi kerajaan karena suksesi kerajaan ialah mutlak menjadi kekuasaan raja.


Sabdatama kedua ialah penggantian nama kebesaran raja dari Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono, serta penghilangan atribut yang menyertai gelar raja sayidin panatagama kalifatulah.


Sabdatama terakhir ialah pemberian gelar putri tertuanya, GKR Pembayun, dengan gelar GKR Mangkubumi.


Sabdatama terakhir itu dapat dimaknai sebagai pengangkatan GKR Pembayun sebagai putri mahkota atau calon pengganti raja.


Ketiga sabdatama HB X itu mengundang polemik pro dan kontra di kalangan masyarakat, karena belum pernah terjadi sebelumnya raja Jawa dari keturunan Mataram Islam memberi gelar mangkubumi kepada seorang putri perempuan. Juga belum pernah terjadi dalam sejarah kerajaan Islam di Yogyakarta itu dipimpin seorang raja perempuan atau ratu.


KEGIATAN ORGANISASI : 

Hamengkubuwono X aktif dalam berbagai organisasi dan pernah memegang berbagai jabatan diantaranya adalah ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY. Pada 2010, bersama dengan Surya Paloh, Sri Sultan Hamengkubuwono X mencetuskan pendirian PARTAI  NASIONAL DEMOKRAT. ( NASDEM )


MENJADI GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta :

Setelah Paku Alam VIII wafat, dan melalui beberapa perdebatan, pada 1998 ia ditetapkan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masa jabatan 1998-2003. Dalam masa jabatan ini Hamengkubuwono X tidak didampingi Wakil Gubernur. Pada tahun 2003 ia ditetapkan lagi, setelah terjadi beberapa pro-kontra, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Kali ini ia didampingi Wakil Gubernur yaitu Paku Alam IX.


Sebagai Gubernur, ia tidak menguber penghargaan dan piagam pengakuan. Menurutnya, peradaban kota memerlukan sentuhan kasih dan hati nurani,


"Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita." (Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta)


Menjadi Jogja Menjadi Indonesia.

"Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia"


Kalimat ini disampaikan dengan penuh penekanan oleh Gubernur DIY Sultan HB X dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29 di depan Gerbang Kantor Gubernur DIY Kepatihan, Yogyakarta.


"Menjadi Jogja, menjadi Indonesia", dimaknai bahwa karakter Jogja akan selalu menguatkan Indonesia.


Mahasiswa, seniman, akademisi, wisatawan, dan terutama masyarakat Jogja diharapkan terus membawa nilai-nilai ke-Jogja-an ke berbagai titik di Indonesia.


Nilai-nilai tersebut antara lain:

1- 'Hamemayu Hayuning Bawono', yang menciptakan kenyamanan.

2- 'Manunggaling kawula Gusti', yang mengajarkan ketauladanan.

3- 'Golong gilig', yang mencerminkan gotong royong.

4- 'Watak Satriya: Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh' yang dimaknai sebagai jati diri yang kuat, tetapi tetap terbuka.


Gempa Jogja .

Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang terjadi pada bulan Mei 2006 dengan skala 5,9 sampai dengan 6,2 Skala Richter yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.


Kiprah Nasional.

"Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita" - Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi Hamengku Buwono X di Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta.

Pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton 7 April 2007, Ia menegaskan tekadnya untuk mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.


Gelar kehormatan .

Pada 27 Desember 2011, ia menerima gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Gelar tersebut karena kiprahnya dalam seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisi dan kontemporer sejak 1989.


Sayangnya Jogja sekarang jauh dari apa yang dicita-citakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. 

Dimana kasus intoleransi makin meruyak.


Nb : episode selanjutnya DIPONEGORO.

Hamengkubuwono IX

Hamengkubuwono IX ( Seri Amangkurat ): Menentang Belanda & Jepang, Berkorban harta dan nyawa, Merencanakan serangan umum 1 Maret 1949, Larangan memiliki tanah bagi warga Tionghoa, Bapak Pramuka Indonesia.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Sri Sultan Hamengkubuwana IX atau Gusti Raden Mas Dorodjatun.

Lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun ) adalah seorang sultan yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Memerintah antara tahun 1940-1988, beliau adalah penguasa Yogyakarta terlama dalam sejarah (48 tahun). selain itu pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973 dan 1978 dan juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia serta pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.


Hamengkubuwana IX

ꦲꦩꦼꦁ​ꦑꦸꦨꦸꦮꦤ꧇ê§™꧇


Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sultan Yogyakarta ke-9

Bertakhta

1940–1988

Penobatan

18 Maret 1940


JABATAN KENEGARAAN :


Wakil Presiden Indonesia ke-2

Mulai menjabat

23 Maret 1973–23 Maret 1978


Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia ke-1

Mulai menjabat

25 Juli 1966–29 Maret 1973


Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5

Mulai menjabat

6 Sept 1950–27 Apr 1951


Menteri Pertahanan Indonesia ke-3

Mulai menjabat

15 Juli 1948–20 Des 1949


Menteri Negara Indonesia

Mulai menjabat

2 Okt 1946–20 Des 1949


Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-1

Mulai menjabat

4 Maret 1950–2 Okt 1988


Ketua Kwartir Nasional ke-1

Mulai menjabat

14 Agustus 1961–27 Nov 1974

Pendahulu


Karier militer

Dinas/cabang

Insignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat

Lama dinas

1945–1953

Pangkat

Pdu letjendtni staf.png Letnan Jenderal


Perang/pertempuran

Revolusi Nasional Indonesia

Agresi Militer Belanda II

Serangan Umum 1 Maret 1949

Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil


Biografi :

Lahir di Yogyakarta dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun di Ngasem, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya ( ada dipostingan 25 ). Beliau memperoleh pendidikan di Europeesche Lagere School di Yogyakarta. Pada tahun 1925 ia melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool di Semarang, dan Hoogere Burgerschool te Bandoeng - HBS Bandung. Pada tahun 1930-an dia berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda.


Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Ngarsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Sénapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat". 

Sultan Hamengkubuwono IX juga terang-terangan menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa". 

Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta. Pada masa Jepang, Sultan melarang pengiriman pemuda pemuda untuk dijadikan romusa ( kerja paksa model Jepang ) dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I. Sultan Hamengkubuwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.


Sejak 1946 ia pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Sukarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 ia diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, ia menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden SOEHARTO yang represif / memakai ABRI untuk menghabisi lawan-lawan politiknya dan para pengkritik nya. seperti pada Peristiwa Malari dan Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya hanyut pada KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme )


DUKUNGAN PADA REPUBLIK INDONESIA.

Sultan Hamengkubuwana IX dalam masa Revolusi Nasional Indonesia sekitar akhir 1940-an.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian sangat buruk. Kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat akibat perang. Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda membuat perdagangan dengan luar negeri terhambat. Kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi di mana-mana, termasuk di Yogyakarta. Oleh karena itu, untuk menjamin agar roda pemerintahan RI tetap berjalan, Sultan Hamengkubuwana IX menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, baik untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.

Setelah Perundingan Renville, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer yang ke-2. Sasaran penyerbuan adalah Ibu kota Yogyakarta. Selanjutnya pada tanggal 22 Desember 1948 Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan para pembesar lainnya di tangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka. Sementara itu, Sultan Hamengkubuwana IX tidak ditangkap karena kedudukannya yang istimewa, dikhawatirkan akan mempersulit keberadaan Belanda di Yogyakarta. Selain itu, waktu itu Belanda sudah mengakui Yogyakarta sebagai kerajaan dan menghormati kearifan setempat. Akan tetapi, Sultan menolak ajakan Belanda untuk bekerja sama dengan Belanda. Untuk itu, Sultan Hamengkubuwana IX menulis surat terbuka yang disebarluaskan ke seluruh daerah Yogyakarta. Dalam surat itu dikatakan bahwa Sultan "meletakkan jabatan" sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengunduran diri Sultan kemudian diikuti oleh Sri Paku Alam. Hal ini bertujuan agar masalah keamanan di wilayah Yogyakarta menjadi beban tentara Belanda. Selain itu dengan demikian, Sultan tidak akan dapat diperalat untuk membantu musuh. Sementara itu, secara diam-diam Sultan membantu para pejuang RI, dengan memberikan bantuan logistik kepada para pejuang, pejabat pemerintah RI dan orang-orang Republiken. Bahkan di lingkungan keraton, Sultan memberikan tempat perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI. Pada Februari 1949, dengan bantuan kurir, Sultan menghubungi Panglima Besar Sudirman untuk meminta persetujuannya melaksanakan serangan umum terhadap Belanda. Setelah mendapat persetujuan Panglima Sudirman, Sultan langsung menghubungi Letkol Soeharto untuk memimpin serangan umum melawan Belanda di Yogyakarta. Serangan ini berhasil menguasai Yogyakarta selama sekitar enam jam. Kemenangan ini penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia masih terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Sesuai dengan hasil Perundingan Roem-Royen, maka pasukan Belanda harus ditarik dari daerah Yogyakarta. Pihak Belanda minta jaminan keamanan selama penarikan itu berlangsung. Untuk itu, Presiden Sukarno mengangkat Sri Sultan sebagai penanggung jawab keamanan dan tugas itu dilaksanakannya dengan baik. Pada tanggal 27 Desember 1949 ketika di Belanda berlangsung penyerahan kedaulatan, maka di Istana Rijkswik (Istana Merdeka) Jakarta, juga terjadi penyerahan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada Pemerintah RIS. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali mendapatkan kepercayaan untuk menerima penyerahan kedaulatan itu sebagai wakil dari pemerintahan RIS.


SERANGAN UMUM 1 Maret 1949 .

Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak sinkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, ialah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Suharto, ia baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.


LARANGAN WARGA TIONGHOA MEMILIKI TANAH :

Yang menarik dari beliau ialah sikapnya terhadap warga keuturuan Tionghoa. Belau orang yang sangat humanis dan tidak membeda-bedakan, namun urusan kebijakan pemerintahan beliau sangat tegas. Salah satu aturan peninggalan beliau ialah melarang warga keturunan Tionghoa untuk memiliki tanah di Jogjakarta, dalam artian tanah sebagai hak milik. Warga keturunan hanya boleh punya Hak Pakai atau Hak Guna Bangunan. Aturan ini sampai sekarang masih berlaku di DIY, dan ini salah satu keistimewaan DIY.


Aturan itu lahir karena ada sejarahnya. Yakni pada saat tahun 1948, atau tahun-tahun saat mempertahankan kemerdekaan RI, sejarah mencatat bahwa etnis Tionghoa lebih memilih membantu pasukan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia ketimbang ikut berjuang bersama elemen bangsa lainnya untuk mengusir Belanda. Dalam sejarah, ini dicatat sebagai Agresi Militer II Belanda, yakni Desember 1948. Saat itu komunitas Tionghoa yang ada di Jogja justru berpihak dan memberikan sokongan ke Belanda yang sebelumnya sudah menjajah Indonesia 350 tahun.


Sejak itulah Kanjeng Sultan Hamengkubuono IX kemudian mencabut hak kepemilikan tanah terhadap etnis Tionghoa di Yogyakarta. Tahun 1950, ketika NKRI kembali tegak dan berhasil dipertahankan dengan keringat dan darah, komunitas Tionghoa akan eksodus dari Yogyakarta. Namun Kanjeng Sultan HB IX masih berbaik hati dan menenangkan ke mereka bahwa meskipun mereka telah berkhianat kepada Negeri ini tetapi tetap akan diakui sebagai tetangga. “Tinggallah di Jogja. Tapi maaf, saya cabut satu hak anda, yaitu hak untuk memiliki tanah”.


Itulah kenapa hingga sekarang ini pengusaha Tionghoa tidak punya hak milik atas tanah di berbagai pusat bisnis di kota Jogja. Mereka hanya bisa punya hak guna atau hak pakai sampai jumlah tahun tertentu. Hal ini diperkuat bahwa pada 1975, Paku Alam VIII menerbitkan surat instruksi kepada bupati dan wali kota untuk tidak memberikan surat hak milik tanah kepada warga negara nonpribumi. Surat ini masih berlaku.


Surat instruksi tersebut mengizinkan warga keturunan memiliki tanah dengan status hak guna bangunan (HGB), bukan hak milik (SHM). Bila tanah tersebut sebelumnya dimiliki pribumi, lalu dibeli warga keturunan, maka dalam jangka tahun pemakaian tertentu tanah itu status kepemilikannya dialihkan pada negara.


Kalangan investor dan cukong sudah beberapa kali menggugat aturan itu dan mengadukan hal itu ke Presiden. Dalihnya ialah aturan itu dianggap rasis dan tidak adil. Para penggugat itu biasanya menyuruh dan mendanai LSM. Namun oleh Mahkamah Agung tetap tidak dikabulkan karena hal itu bagian dari keistimewaan DIY.


BAPAK PRAMUKA INDONESIA.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX adalah Bapak Pramuka Indonesia.

Sejak usia muda Hamengkubuwana IX telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan. Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX telah menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan). Pada tahun 1961, ketika berbagai organisasi kepanduan di Indonesia berusaha disatukan dalam satu wadah, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peran penting di dalamnya. Presiden RI saat itu, Sukarno, berulang kali berkonsultasi dengan Sri Sultan tentang penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya.


Pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Sukarno membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Panitia ini beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka dan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961.


Pada tanggal 14 Agustus 1961, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pramuka, selain dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan dan defile, juga dilakukan pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas (Ketua Mapinas adalah Presiden RI).


Sri Sultan bahkan menjabat sebagai Ketua Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka hingga empat periode berturut-turut, yakni pada masa bakti 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970 dan 1970-1974. Sehingga selain menjadi Ketua Kwarnas yang pertama kali, Hamengkubuwana IX pun menjadi Ketua Kwarnas terlama kedua, yang menjabat selama 13 tahun (4 periode) setelah Letjen. Mashudi yang menjabat sebagai Ketua Kwarnas selama 15 tahun (3 periode).


Keberhasilan Sri Sultan Hamengkubuwana IX dalam membangun Gerakan Pramuka dalam masa peralihan dari “kepanduan” ke “kepramukaan”, mendapat pujian bukan saja dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Dia bahkan akhirnya mendapatkan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Bronze Wolf Award merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan.


Atas jasa tersebutlah, Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka pada tahun 1988 yang berlangsung di Dili (Ibu kota Provinsi Timor Timur, sekarang negara Timor Leste), mengukuhkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.


PAHLAWAN NASIONAL : 

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri.


JABATAN YANG PERNAH DIEMBANNYA :

Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)

Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)

Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 – 11 November 1947 dan 11 November 1947 – 28 Januari 1948)

Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)

Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949)

Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 – 6 September 1950)

Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)

Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)

Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)

Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)

Ketua Federasi ASEAN Games (1958)

Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)

Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)

Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)

Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)

Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)

Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 – 23 Maret 1978)

Pahlawan Nasional 

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarnoputri


Literatur :

Roem, Mohammad. Tahta untuk Rakyat, Jakarta: Gramedia (1982)

Pour, Julius. Doorstood Nar Jogya, Jakarta: Gramedia (2010)

Referensi :

^ a b c Biografi singkat HB IX. Website resmi kraton Yogya. 2019. Diakses tanggal 21/07/2019

^ http://nusantarakini.com/2016/11/20/sikap-sri-sultan-hamengkubuwono-ix-terhadap-etnis-tionghoa.

Hamengkubuwono VIII

 Hamengkubuwono VIII (seri Amangkurat):

GPH. PURBAYA, Sekolah Taman Siswa Nasional, Rumkit Panti Rapih, dan Konggres Perempuan Nasional.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Sri Sultan Hamengkubuwana VIII adalah 

Putra ke 23 dari Sultan Hamengkubuwana VII (Sinuhun Behi) dari istri keduanya, GKR Mas.

Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (lahir di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, 3 Maret 1880 – meninggal di Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, 22 Oktober 1939 pada umur 59 tahun).

Adalah salah seorang raja di Kesultanan Yogyakarta yang bertahta dari tahun 1921-1939. Ia bernama asli Gusti Raden Mas Sujadi. Setelah dewasa menjadi GPH ( Gusti Pangeran Hario ) Purboyo. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta tanggal 8 Februari 1921. 


Perjalanan GRM. Sujadi alias GPH. Puruboyo sebagai penerus tahta Kasultanan Ngayogyakarta sesungguhnya melalui jalan yang panjang. Awalnya, Sri Sultan Hamengku Buwono VII telah mengangkat putra sulung GKR Hemas, yaitu GRM Akhadiyat, sebagai putera mahkota. Akan tetapi, tidak lama setelah dinobatkan sebagai putera mahkota, GRM Akhadiyat sakit hingga meninggal dunia. Sri Sultan Hamengku Buwono VII kemudian mengangkat GRM Pratistha sebagai pengganti putera mahkota sebelumnya. Putera mahkota kedua yang juga bergelar Adipati Juminah ini di kemudian hari gelarnya dicabut karena alasan kesehatan. Posisi putera mahkota untuk yang ketiga kali kemudian jatuh kepada GRM Putro. Nasib baik tidak berpihak kepada GRM Putro yang juga meninggal dunia akibat sakit keras. Akhirnya, pilihan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk didudukkan sebagai mahkota jatuh kepada GPH Puruboyo.


Tahun 1920 GPH. Puruboyo sedang menempuh studi di Belanda, ketika sang ayahanda Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengungkapkan niat untuk lengser keprabon. Mendengar hal ini, Residen Jonquire yang menjadi wakil pemerintah Belanda di Yogyakarta, mengusulkan kepada Gubernur Jendral van Limburg Stirum agar upaya pergantian tahta dipercepat.


Dikarenakan posisi GPH. Puruboyo masih di Belanda, maka van Limburg Stirum yang menyetujui gagasan tadi memerintahkan Jonquire agar mendesak Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk segera memanggil pulang GPH Puruboyo melalui telegram. Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyetujui usulan tersebut dan mengirimkan telegram pada awal November 1920. Di dalam telegram itu Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyampaikan agar Gusti Puruboyo jangan terlalu lama di Eropa karena para putera dan puteri, kerabat dan abdi dalem sudah menanti-nanti kepulangan beliau.


Setelah GPH Puruboyo setuju untuk pulang ke Yogyakarta dan dijadikan pengganti ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono VII memutuskan untuk lereh keprabon (turun tahta) dan beristirahat di Pesanggrahan Ambarukmo. Pada tanggal 8 Februari 1921, GPH Puruboyo kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. ( Dari mana dana-dana ini ? Sudah ada dipostingan sebelumnya ).

Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Leiden.


Pada masa pemerintahannya, ia banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah Bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang direhabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe. Ia juga merupakan salah satu orang pertama dari kalangan politikus papan atas Kota Yogyakarta yang mendukung perjuangan Kh. Ahmad Dahlan dalam pembentukan Muhammadiyah sebagai bentuk loyalitasnya pada Islam.


KIPRAH SUNAN HAMENGKUBUWANA VIII.

Kekayaan keraton yang cukup besar kala itu, dimanfaatkan sebanyak-banyaknya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk mendorong dunia pendidikan. Seperti ayahandanya, beliau juga mengharuskan putra-putrinya untuk menempuh pendidikan formal setinggi mungkin, bahkan bila perlu hingga ke Negeri Belanda.


Sekolah-sekolah, organisasi dan munculnya aktivis banyak berkembang di masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII . Sekolah Taman Siswa Nasional (berdiri 3 Juli 1922), Organisasi Politik Katholik Jawi (1923) dan Kongres Perempuan (1929) adalah contoh-contohnya.


Perhatian beliau di dunia kesehatan juga sangat besar, misalnya dengan mendukung pengadaan ambulans untuk Rumah Sakit Onder de Bogen (saat ini: Panti Rapih).


Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga banyak mengadakan perombakan/rehabilitasi bangunan. Bangsal Pagelaran, Tratag Siti Hinggil, Gerbang Danapratapa dan Masjid Gede adalah beberapa bangunan yang beliau perbaiki.


Di dalam lingkungan keluarganya sendiri, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga banyak melakukan terobosan. Hal tersebut terjadi bahkan semenjak sebelum menjadi Sultan. Salah satunya adalah dengan “menitipkan” anak-anaknya di luar lingkungan keraton. BRM Dorodjatun, yang kelak menjabat sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dari umur 4 tahun sudah dititipkan ke keluarga Belanda. Tidak ada inang atau pengasuh yang menjaga. Pangeran kecil itu dituntut untuk hidup mandiri dan merasakan hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat pada umumnya.


Langkah-langkah yang diambil oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII tersebut adalah cerminan dari sikap beliau yang berpedoman pada ungkapan “wong sing kalingan suka, ilang prayitane”, orang yang sudah merasakan nikmat akan hilang kewaspadaannya.


PENINGGALAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO VIII.

Seperti sudah disinggung di atas, di masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII Yogyakarta mengalami kemajuan pesat di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang arsitektur, bentuk fisik kraton saat ini adalah hasil perombakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Di bidang seni tari, banyak sekali tarian diciptakan pada era kepemimpinan beliau. Diantaranya adalah Beksan Srimpi Layu-layu, Beksan Gathutkaca-Suteja, Bedaya Gandrung Manis, Bedaya Kuwung-Kuwung dan masih banyak lagi. Pada masa ini pula, pembakuan terhadap pakem tari klasik Gaya Yogyakarta dimulai.


Masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga dikenal sebagai masa keemasan pentas wayang wong. Pementasan wayang orang besar-besaran hingga memakan waktu tiga hari banyak dan sering dilakukan di era ini. Lebih dari 20 lakon dikembangkan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.


Dari segi busana untuk Tari Bedaya, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII melakukan perubahan besar. Karya Tari Bedaya yang lahir pada era ini tidak menggunakan kampuh dan paes ageng. Di masa ini penari menggunakan jamang dan bulu-bulu, baju tanpa lengan serta kain seredan.


WAFATNYA SUNAN HAMENGKUBUWANA V III.

Pada tahun 1939, beliau memanggil putranya, BRM Dorodjatun yang sedang belajar di Negeri Belanda. Setelah keduanya bertemu di Batavia, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII kemudian menyerahkan pusaka keraton Kyai Joko Piturun kepada BRM Dorojatun. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa BRM Dorojatun telah ditunjuk menjadi penerus tahta sepeninggalnya.


Dua versi kematian nya.

1. Setibanya dari Batavia menjemput BRM Dorojatun tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat pada tanggal 22 Oktober 1939 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dimakamkan di Astana Saptarengga, Pajimatan Imogiri.

2. Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di kereta api di daerah Wates, Kulon Progo dalam perjalanan pulang dari Jakarta untuk menjemput GRM Dorojatun dari negeri Belanda.

( Dengan demikian perkataan Sunan Hamengkubuwana VII terbukti - lihat dipostingan 24 ).


Sri Sultan Hamengkubuwana VIII.

Memiliki delapan istri:

RA Siti Katina, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, tahun 1907

BRA Purya Aningdiya

BRA Puspitaningdiya

BRA Srengkara Aningdiya

RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi

BRA Rukmi Aningdiya

KBRAy Ratna Adiningrum

BRAy Ratna Puspita

Memiliki dua puluh empat putra:

Hamengkubuwono VII

Hamengkubuwono VI ( Seri Amangkurat ): KH. AHMAD DAHLAN / MOHAMMADIYAH, Konggres pertama BUDI UTOMO dan Grm. Sujadi / HAMENGKUBUWONO VIII.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Grm. Murtejo, demikian nama kecil beliau, lahir pada tanggal 4 Februari 1839 dari rahim Gkr. Sultan, yang merupakan permaisuri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Permaisuri pertama, Gkr. Hamengku Buwono, yang merupakan puteri Paku Buwono VIII dari Surakarta tidak memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu, setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VI wafat, Grm. Murtejo mengambil posisi ayahandanya sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tanggal 13 Agustus 1877.


Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, perkembangan industrialisasi meningkat seiring era Tanam Paksa ( Cultuur Stelsel ). Hal ini bisa dilihat dari tumbuh dan berkembangnya pabrik gula waktu itu. Tak kurang ada 17 pabrik gula dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pabrik-pabrik tersebut terdiri dari pabrik milik Kasultanan, milik swasta maupun milik Belanda. Dari setiap pabrik, beliau menerima uang sebesar f 200.000 (f = florin) dari Pemerintah Belanda. Karena memperbesar pemasukan ke kas Belanda dari ekspor gula dengan posisi no 1 di Asia.


Berlakunya era liberalisme semenjak tahun 1870 juga memberi keuntungan bagi Sultan, yaitu dengan memperkenalkannya sistem Hak Sewa Tanah untuk masa sewa 70 tahun. ( Kebanyakan disewa oleh pihak swasta dan  usahawan Eropa untuk perkebunan tebu ) Selain itu karena kebutuhan transportasi gula, dibangun pula transportasi yang menggunakan jalur kereta api dengan lori-lori pengangkut tebu. Pembangunan jalur kereta api ini diprakarsai oleh perusahaan swasta Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Ongkos sewa dari jalur ini lagi-lagi masuk ke keuangan keraton. Maka tak heran jika kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VII juga dikenal sebagai Sultan Sugih .


Era Hamengku Buwono VII merupakan masa transisi menuju modernisasi. Banyak sekolah didirikan. Dia juga menyekolahkan anak-anak beliau hingga perguruan tinggi, bahkan sampai mengirim mereka ke Negeri Belanda.


Pada masa Hamengku Buwono VII, seni tari mulai menerima murid murid dari luar tembok keraton. Dia mendukung putra-putrinya untuk mendirikan sekolah gaya Yogyakarta, Krido Bekso Wiromo . Sekolah ini tidak hanya diperuntukkan untuk warga lingkungan keraton saja. Siapapun yang berminat belajar tari gaya Yogyakarta, diundang untuk datang dan diterima sendiri di Dalem Tejokusuman . Bentuk dukungan Sri Sultan Hamengku Buwono VII tidak berhenti di sini. Dia juga mendorong tumbuh kembangnya pentas tari dan wayang, jadi semenjak akhir 1918 pentas demikian semakin marak.


Pendidikan dan pola pikir terbuka yang ditanamkan untuk anak-anak Sri Sultan Hamengku Buwono VII, menghasilkan tidak hanya sekolah tari. Pada masa itu banyak berdiri organisasi-organisasi massa. Pangeran Suryodiningrat, putra beliau, memprakarsai berdirinya organisasi petani Pakempalan Kawulo Ngayogyakarta .


Sri Sultan Hamengku Buwono VII terkesan dengan kecakapan beragama salah satu Abdi Dalemnya yang memiliki nama " pengupas Dalem Ngabdul Darwis." Sultan kemudian mengirim Ngabdul Darwis ke Mekah untuk mendalami agama Islam. Kembali dari Mekah, Ngabdul Darwis yang kemudian dikenal sebagai Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah, salah satu organisasi besar saat ini, yang lahir dari lingkungan keraton pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Bergerak dalam bidang  amal usaha dan pendidikan ini segera berkembang cepat keluar wilayah Kauman , tempat organisasi ini bermula.


Sri Sultan Hamengku Buwono VII memiliki visi jauh ke depan, dengan memberikan ruang kepada para aktivis-organisasi politik Indonesia. Bangunan Loji Mataram miliknya, terletak di Jl. Malioboro (sekarang gedung DPRD DIY), dipinjamkan ke organisasi Budi Utomo untuk mengadakan kongres pertama. Sikap terbuka Sri Sultan Hamengku Buwono VII juga turut diterima oleh umat Islam pada masanya. Dia mempersilahkan perayaan hari-hari besar keagamaan sesuai dengan kalender Hijriah, namun untuk upacara Garebeg tetap sesuai kalender Sultan Agungan .


Menjelang pertambahan usia beliau yang ke 81, Sri Sultan Hamengku Buwono VII ingin turun tahta. Pada tahun 1920, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengemukakan niat tersebut pada Patih Danurejo VII dan kepada pemerintah Hindia Belanda. Dia sendiri memilih madeg pandhita ( pensiun ), dan menetap di pesanggrahan Ambarukmo.


Keputusan pensiun sultan Hamengkubuwana VII ini dikeluarkan karena ada beberapa aturan  pemerintah Belanda yang makin menjepit kekuasaannya dan hak haknya, antara lain :

Belanda ingin menerapkan program reorganisasi agraria. Progam ini dirasa oleh Sultan Hamengku Buwono VII sebagai penyempitan ruang gerak beliau sebagai Sultan. Salah satu isi dari program tersebut adalah penghapusan sistem apanage ya itu mengembalikan semua tanah menjadi milik raja. Sepintas program itu seperti memberikan otoritas kepada raja untuk memiliki tanah-tanahnya. Akan tetapi, pasal lain dari program yang dimaksud adalah pengelolaan tanah nya di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Hasil pengelolaan tanah-tanah tersebut harus disetor melalui lembaga yang ditunjuk Belanda dan masuk ke  kas daerah ( landschapkas), yang mana patih di bawah pengawasan residen Belanda menjadi penanggungjawabnya. Uang yang terkumpul tidak boleh digunakan langsung oleh keraton / sultan, tetapi harus sepersetujuan residen Belanda,Di sini, posisi  politis sultan, Ia seakan-akan ia menjadi pegawai dari struktur pemerintahan Hindia Belanda.


Pada tanggal 29 Januari 1921 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkotanya yang keempat Grm. Sujadi, sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena : 

1. Putera mahkota yang pertama yaitu Grm.  Akhaddiyat, ( anti Belanda ) yang seharusnya menggantikan ayahnya, tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya. 

2. Putera mahkota yang kedua, Kgp. Adipati Anom / Adipati Juminah, ( anti Belanda -  kakek dari seniman Indonesia, Bagong Kussudiardjo ) tidak diangkat karena alasan kesehatan. 

3. Putra mahkota yang ketiga, Grm, Putro,(anti Belanda ) meninggal dunia tanggal 21 Februari 1913 akibat sakit keras setelah kembali dari Kulon Progo.


Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup. Belanda tidak ingin terjadi huru hara apabila pengangkatan Grm. Sujadi menunggu sampai Sultan Hamengkubuwono VII wafat.


Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VII

Selain pabrik gula, kereta api dan bangunan bersejarah Pesanggrahan Ambarukmo, Sri Sultan Hamengku Buwono VII juga banyak mempelopori karya di bidang seni. Tari Bedaya Sumreg , Srimpi Dhendhang Sumbawa , dan Bedaya Lala adalah contoh karya beliau. Di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII juga, Tari Bedaya yang semula menggunakan kampuh beralih menjadi menggunakan mekak , namun riasannya tetap menggunakan paes ageng . Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini pula, tersedia abdi dalem empu pembuat keris yang menghasilkan keris-keris bagus yang dikenal dengan keris tangguh kaping piton .


Pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII Tugu Golong Gilig yang hancur akibat gempa pada tahun 1867 di renovasi oleh YPF van Brussel (pejabat pelaksana) di bawah pengawasan Patih Danurejo V. Setelah proses perombakan selesai, tugu yang menjadi ikon kota Yogyakarta diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1889.


Sri Sultan Hamengku Buwono VII wafat pada tanggal 30 Desember 1921 (29 Rabingulakir 1851). Ia dimakamkan di Astana Saptorenggo , Pajimatan Imogiri.


Wafat nya  Sultan Hamengkubuwana VII 

Versi 1.

( Akibat dari intrik intern ini Hamengkubuwana VII diasingkan oleh putera mahkota ke 4 kepesanggrahan  Ambarukmo yang terletak diluar keraton Jogjakarta )


Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti saran anaknya ( Sultan Hamengkubuwono VIII ) yang telah menguasai politik dan pemerintahan kerajaan.


Versi 2.

Mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandita (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarrukmo.


Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan : " Tidak akan pernah ada lagi raja yang meninggal di dalam keraton setelah saya" dan ucapan itu terbukti pada . Dua raja setelah Hamengkubuwono VII yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII (meninggal dunia setelah menjemput putra mahkota, G.R.M. Dorojatun, dari Batavia) dan Hamengkubuwono IX (meninggal dunia di Amerika Serikat). Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Dan meninggal diluar rumah nya sendiri adalah hal yang memalukan, 


Sri Sultan Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukmo pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Pemakaman Imogiri.


Delapan belas istri Hamengkubuwana VII :

1. BRA Sukina/BRA Mangku Bumi (b. 1836), putri termuda Sultan Hamengkubuwana V dengan istri keduanya BRAy Dewaningsih.

2. GKR Mas, putri dari KRT Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat.

3. GKR Kencana/GKR Wandhani, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja.

4. BRAy Ratna Sri Wulan, putri dari BPH Adi Negara.

5. BRAy Ratnaningsi.

6. BRAy Ratnaningdia.

7. BRAy Ratna Adi.

8. BRAy Ratnasangdia.

9. BRAy Ratnajiwata.

10. BRAy Puryaningdia.

11. BRAy Devaratna.

12. BRAy Puspitaningdiya.

13. BRAy Srengkara Adinindia.

14. BRAy Rukmidiningdia.

15. BRAy Ratna Adiningrum.

16. BRAy Ratna Puspita.

17. BRAy Tejaningrum.

18. BRAy Ratna Mandaya, putri dari Patih Dhanuraja VI.


Memiliki 31 putra

Memiliki 38 putri


Sunting :

^ a b Biografi singkat HB VII. kratonjogja.id. 2019. Diakses tanggal 18/07/2019

(Inggris) HB VII - Genealogy

Kepustakaan  :

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu


Gambar : masakan yang paling disukai oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VII adalah ayam kampung disemir dengan kecap manis.

Hamengkubuwono III-V

Hamengkubuwono III-V: Kanjeng Mas HEMAWATI, Permaisuri SEKAR KEDATON.

( Seri Amangkurat )

Oleh: Anggoro Ruwanto

Sri Sultan Hamengkubuwana III (lahir di Yogyakarta, 20 Februari 1769 – meninggal di Yogyakarta, 3 November 1814 pada umur 45 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dalam dua periode, yaitu tahun 1810 – 1811 dan 1812 – 1814.

Nama aslinya adalah Raden Mas Surojo, putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels.


Hamengkubuwana II diturunkan secara paksa dari takhta setelah peristiwa pemberontakan Raden Ronggo. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.


Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.


Kemudian terjadi permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Thomas Raffles, yaitu kepala pemerintahan Inggris di Jawa. Pertempuran terjadi di Keraton Yogyakarta, di mana Thomas Raffles membuang Hamengkubuwana II ke Pulau Penang, dan mengangkat kembali Hamengkubuwana III sebagai raja.


Akibat pertempuran tersebut, Kesultanan Yogyakarta harus menerima konsekuensi, antara lain:


Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahunnya.

Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja.

Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Thomas Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.


Pemerintahan Hamengkubuwana III berakhir pada saat meninggalnya, yaitu tanggal 3 November 1814. ( Umur 45 tahun - dimakamkan di Imogiri ) Ia digantikan putranya yang masih anak-anak sebagai Hamengkubuwana IV. Sementara itu putra tertuanya yang lahir dari selir bernama Pangeran Diponegoro kelak melancarkan perang terhadap Belanda pada tahun 1825 – 1830.

( Untuk lebih jelasnya bisa di postingan saya bagian 19, 20, dan 21 )


HAMENGKUBUWANA IV.

Sri Sultan Hamengkubuwana IV (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono IV), (lahir 3 April 1804 – meninggal 6 Desember 1823 pada umur 19 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1814 - 1822.


Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, putra kedelapan belas Hamengkubuwana III yang lahir dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono pada tanggal 3 April 1804. Ia naik tahta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun 1814. Karena usianya masih sangat muda, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.


Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.


Pada tanggal 20 Januari 1820 Paku Alam I meletakkan jabatan / mundur sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 1823 saat sedang bertamasya. Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta Sinuhun Jarot, Seda Besiyar.


Kematian Hamengkubuwono IV yang serba mendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya ( tubuhnya membengkak dan dari lobang hidung dan telinga mengeluarkan cairan hijau yang berbau busuk ) Putra mahkota yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai raja, bergelar Hamengkubuwono V.


HAMENGKUBUWANA V.


Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Gusti Raden Mas Gathot Menol, putra keenam Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 24 Januari 1820 dari permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Kencono. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda. Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1820 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertakhta baru berumur 3 (tiga) tahun.


Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, di mana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerja sama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.


Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditentang oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Gusti Raden Mas Mustojo ( kelak naik takhta bergelar Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan ( GRM Mustojo. ) Keadaan semakin menguntungkan GRM Mustojo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 sultan sendiri, Kangjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.


MISTERI KEMATIAN NYA :

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan peristiwa wereng saketi tresno (bahasa Indonesia: wafat oleh yang dicinta), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kangjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sultan, suaminya.

Sultan Hamengkubuwana (HB) V ditemukan tewas bersimbah darah di salah satu ruang istananya.


Peristiwa ini diliputi kabut misteri yang tidak terkuak secara gamblang hingga sekarang. Pasalnya, dalam catatan sejarah, hasil pengusutan dari pembunuhan itu tetap menyisakan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab.


Dalam pengusutan, disebutkan bahwa Sang Raja ditikam dari belakang dengan menggunakan keris oleh istri kelimanya, yang konon adalah paling ia cintai. Wanita cantik itu bernama Kanjeng Mas Hemawati. 

Para bangsawan keraton sengaja menutup rapat-rapat semua pihak yang ingin menguak apa yang terjadi di balik peristiwa itu.


Pertanyaannya, mengapa Kanjeng Mas Hemawati membunuh suaminya yang telah memberikan gelimang harta dan nama harum baginya? Apakah semata karena persoalan cinta? Apakah ia hanyalah kepanjangan tangan dari pihak lain yang bertentangan dengan Sang Raja?


Hanya saja, tidak diketahui secara pasti bagaimana intrik itu kemudian dirancang dan dilaksanakan. Namun banyak  desas-desus di keraton bahwa intrik dan polemik itu kemudian melibatkan istri sultan, yaitu Kanjeng Mas Hemawati. Dan terjadilah peristiwa berdarah itu.

Sejak peristiwa pembunuhan itu, tiba-tiba keberadaan Kanjeng Mas Hemawati kemudian seperti hilang tertelan bumi.( Apakah dibunuh, apa dibuang ke suatu tempat, atau dipenjarakan ) tidak ada yang tahu.


Selain itu, ada kejanggalan lain yang perlu dicatat. Saat Hamengkubuwana V dibunuh, permaisuri yaitu Kanjeng Ratu Sekar Kedaton sedang hamil tua. kemudian melahirkan seorang putera dan diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

Harusnya yang naik tahta adalah Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad. Namun dengan alasan masih bayi, pihak yang kemudian naik tahta menjadi Raja adalah Raden Mas Mustojo ( adik Hamengkubuwana V yang mendapatkan banyak dukungan rakyat dan kerabat keraton ) dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana VI.


Dan babak selanjutnya, intrik Raden Mas Mustojo alias Hamengkubuwana VI, terlihat lebih kentara. Saat ia wafat pada 20 Juli 1877. Tahta kerajaan seharusnya diserahkan “kembali” kepada Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

Namun ternyata yang naik tahta adalah anak dari Hamengkubuwana VI, yakni Gusti Raden Mas Murtejo yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana VII (1839-1931).


Dan ketika permaisuri Hamengkubuwana V dan Gusti Timur Muhammad menuntut haknya, mereka justru ditangkap dan dibuang ke Manado, Sulawesi Utara,

Ada Kubur Beton Sekar Kedaton

Di kelurahan Mahakeret Barat, kecamatan Wenang, Manado.makam Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya, Pangeran Gusti Timur Muhammad Suryeng Ngalaga. Tertera wafatnya sang Ratu, 25 Mei 1919.


HAMENGKUBUWONO VI.

Seperti yang telah diperkirakan, Raden Mas Mustojo dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta berikutnya, bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana VI kendati mulanya hanya sementara sembari menunggu putra mahkota ( Gusti Timur Mohammad ) sudah siap memimpin sebagai sultan. Namun, yang terjadi kemudian bukan sesuai kesepakatan. Setelah Sultan HB VI wafat pada 20 Juli 1877, yang dinaikkan ke singgasana justru anaknya sendiri, yakni Gusti Raden Mas Murtejo atau yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana VII (1839-1931).


Hal ini tentu saja mendapat tentangan dari permaisuri Sultan HB V, Ratu Sekar Kedaton, dan Gusti Timur Muhammad yang seharusnya naik tahta. Keduanya lalu ditangkap dengan tudingan telah melakukan pembangkangan terhadap raja dan istana. Hukuman pun dijatuhkan, sekaligus untuk menghapus trah Sultan HB V demi melanggengkan kekuasaan Sultan HB VII beserta keturunannya nanti. Ratu Sekar Kedaton dan Gusti Timur Muhammad harus menjalani hukuman buang ke Manado, Sulawesi Utara, hingga keduanya meninggal dunia di sana.


Ada Kubur Beton Sekar Kedaton

Di kelurahan Mahakeret Barat, kecamatan Wenang, Manado.makam Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya, Pangeran Gusti Timur Muhammad Suryeng Ngalaga. Tertera wafatnya sang Ratu, 25 Mei 1919.


Bacaan lanjutan Sunting

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu.


Foto : Ratu Kedaton. Permaisuri Sunan Hamengkubuwana V yang bersama anaknya ( putra mahkota Rm. Timur Mohammad ) dibuang ke Manado sampai wafatnya.

Hamengkubuwono II

Hamengkubuwono ( Seri Amangkurat ): Geger SEPEHI.

Oleh: Anggoro Ruwanto

Kurun waktu 1808 hingga 1812 adalah tahun-tahun yang mengubah wajah Yogyakarta. “Revolusi Peperangan era Napoleon”. Berkecamuk nya peperangan di Eropa ini, membuat perubahan juga di salah satu kerajaan Jawa yang ada di masa itu, Kesultanan Yogyakarta. Setelah Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Prancis, Bataafsche Republiek yang berkuasa di Nusantara diganti dengan Koninkrijk Holland di bawah pimpinan Raja Louis Napoleon Bonaparte ( Perancis )


Maka Napoleon mencari orang yang cakap untuk menjadi Gubernur Jendral di Jawa, dan jatuhlah pilihannya pada Daendels. Tugasnya adalah mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris.


Dari keputusan kebijakan Daendels, efek yang paling dirasakan oleh penduduk adalah hak-hak mereka. Tanah-tanah pertanian, perkebunan, dan tanah pribadi, diambil alih pemerintah kolonial, kemudian disewakan ke partikelir-partikelir lokal, sehingga akhirnya rakyat berubah status menjadi buruh tani, buruh industri, maupun buruh perkebunan.


Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792-1810; 1811-1812; 1826-1828) menentang aturan-aturan baru yang diterapkan oleh Daendels. Penentangan ini dijawab dengan mengirim pasukan Belanda ke Yogyakarta, mengalahkan Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk menyerahkan kekuasaan pada Putra Mahkota. Meski demikian, Sri Sultan Hamengku Buwono II yang kemudian disebut sebagai Sultan Sepuh, masih tinggal di keraton dan memegang segel kerajaan.


Pada bulan Mei 1811, Daendels digantikan posisinya sebagai Gubernur Jendral oleh Jan Willem Jansens. 

Pada tanggal 4 Agustus 1811, balatentara Inggris menyerbu Batavia. Jawa akhirnya jatuh ke tangan Inggris.

Pulau Jawa menjadi bagian dari koloni Inggris yang berpusat di Kalkuta. Gubernur Jendral Inggris di Kalkuta, Lord Minto, kemudian menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur di Jawa. Melihat perubahan ini, Sultan Sepuh ( Hamengkubuwono II ) menggunakan kesempatan ini untuk mengambil alih kembali kerajaan.


Raffles pun kemudian segera membuat kebijakan-kebijakan baru dan pada bulan November 1811 menunjuk John Crawfurd sebagai Residen Yogyakarta. Kebijakan Raffles terkait pertanahan dan pengelolaan keuangan, tidak berbeda jauh dengan Daendels, Hal ini membuat Sri Sultan Hamengku Buwono II tidak berkenan. Sikap penentangan mulai muncul, bahkan ia menghimpun kekuatan secara terang-terangan. Raffles melihat hal tersebut sebagai ancaman, dan kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Kolonel Robert Rollo Gillespie menyerang Yogyakarta.


JATUHNYA KERATON YOGYAKARTA.


Pada tanggal 17 Juni 1811 malam, pasukan Inggris menuju Yogyakarta. Namun pasukan Yogyakarta berhasil melukai dan membunuh beberapa bala tentara Inggris.


Raffles kemudian mengirim delegasi ke Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk berunding, namun demikian komisi tersebut ditolak. Hal ini memicu api peperangan. Tembakan meriam terdengar dari arah Keraton Yogyakarta, menandakan sikap tidak mau kompromi dari Sri Sultan Hamengku Buwono II.


Situasi Pertempuran : prajurit keraton jogjakarta bertahan didalam benteng pertahanan yang kokoh. Di sekitar kraton terdapat parit-parit lebar dan dalam, dengan jembatan yang bisa diangkat sebagai pintu masuknya. Tersedia pula beberapa bastion ( Bagian benteng yang sedikit menjorok kedepan ) tebal yang dilengkapi dengan meriam. Pintu utama menuju kraton juga dilengkapi dengan dua baris meriam. sebanyak 17.000 prajurit dan warga yang tersebar di kampung-kampung, mempertahankan wilayah Yogyakarta.

Sengitnya pertempuran antara Kerajaan Inggris dan Kasultanan Yogyakarta pada Jumat-Sabtu, 19 dan 20 Juni 1812, dicatat oleh seorang serdadu Inggris, Kapten William Thorn ( menulis penaklukan Inggris ke Jawa dalam Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815 di London.)

Kapten Williams Thorn melukiskan keadaan pertahanan Keraton Yogyakarta. “Kraton atau kediaman Sultan Mataram,” demikian tulisnya, “dikelilingi oleh parit basah nan lebar dengan jembatan jungkit; dinding benteng yang tebal dan kokoh dengan bastion [pojok benteng yang menjorok] dan diperkuat dengan seratus meriam.”Dalam pertempuran dua hari itu Inggris berkekuatan sekitar 1.000 serdadu berseragam merah, yang terdiri atas serdadu asal sepoy India dan serdadu Eropa. Jumlah itu masih ditambah 500 prajurit Legiun Pangeran Prangwedono asal Mangkunagaran, Surakarta. Sementara, menurut Thorn, terdapat sekitar 17.000 prajurit Keraton yang bersiaga di dalam baluwarti (tembok keraton). Tembak-menembak antara Benteng Vredeburg—sebagai kubu pertahanan Inggris—dan Keraton sebenarnya sudah dimulai sejak 18 Juni sore. Menurut Thorn, benteng ini, “hanya sedikit meninggalkan bubuk mesiu dari pabrik mesiu lawas tinggalan Belanda, sangat buruk,” ungkapnya, “sehingga tembakan kami ibarat hanya menghibur musuh.”


Sebetulnya Inggris masih menanti pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod yang tengah berangkat dari Salatiga menuju Yogyakarta. Pasukan susulan itu baru tiba pada esoknya, dan langsung menggempur Keraton.


Pertahanan Sultan yang paling kuat dengan meriam-meriam bermulut ganda berada di kawasan Alun-alun utara. Namun, tampaknya Inggris tidak menempatkan kawasan ini sebagai serangan utama, melainkan serangan pengecoh.


Serangan utama Inggris tertuju pada sisi timur baluwarti— ( kini sepanjang Jalan Brigjen Katamso.) Gempuran tersebut dilakukan oleh Kolonel James Watson yang membawahi Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires. Mereka mendekati bastion timur laut dengan dilindung penembak-penembak Inggris.


Bastion timur laut tempat gudang mesiu prajurit Sultan berhasil diledakkan oleh serdadu sepoy di bawah komando Watson. Tampaknya ledakan penyimpanan bubuk mesiu itu sangat dahsyat. Setelah ledakan, pertahanan baluwarti mulai mengendur sehingga mereka berhasil menurunkan jembatan jungkit di gerbang utama Kadipaten.


Mungkin akibat ledakan itulah bastion timur laut itu rusak berat dan hingga hari ini hanya menyisakan tiga bastion—warga menjulukinya dengan Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor. Plengkung Tarunasura/Pancasura, kini lebih dikenal dengan Wijilan, sebagai gerbang utama Kadipaten diserang oleh pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod. Gerbang masih dijaga pertahanan kuat laskar Sultan. Para serdadu sepoy India itu merayapi dinding benteng dengan cara saling memanjat pundak temannya hingga mencapai celah baluwarti. Akhirnya, artileri tempur Inggris berhasil meledakkan gerbang itu.


“Musuh menyapu tembok benteng dengan tembakan senapan dari bastion tenggara,” catat Thorn. Namun, “akhirnya [bastion itu] takluk diujung bayonet.” Kemudian, setelah beberapa pertempuran di sisi selatan benteng, serdadu Inggris berhasil membuka gerbang selatan, Plengkung Nirbaya. Berikutnya, serdadu sepoy dan Inggris berhasil membobol pintu gerbang barat, Plengkung Jagabaya. Pertahanan benteng terakhir yang mampu dipertahankan laskar Sultan adalah bastion barat laut, kemudian mereka menyelamatkan diri ke sebuah masjid di luar baluwarti, demikian papar Thorn. Tampaknya yang dimaksud Thorn adalah Masjid Besar Kauman.

Segera setelah beteng ini direbut, seluruh meriam diarahkan ke arah Keraton Yogyakarta. Serangan ini kemudian disusul dengan masuknya pasukan Sepoy dari Gerbang / Plengkung Nirbaya yang berhasil dikuasai. pasukan Inggris berhasil masuk ke Plataran Srimanganti.

Mayor William Thorn, pelaku sejarah serbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812 menulis, penaklukan raja Jawa, Sultan HB II, dilakukan dengan cara-cara terhormat penuh kedisiplinan.


Dalam buku memoar yang ditulisnya, Penaklukan Pulau Jawa, terbit pertama tahun 1815, Thorn yang ikut bertempur di Jogjakarta melukiskan penyerahan diri Sultan HB II terjadi setelah tiga jam penyerbuan yang sangat sengit dan brutal. Tidak lagi menggunakan meriam dan peluru tetapi menggunakan bayonet dan keris juga senjata tajam lainnya.

Sekitar 1.000 prajurit Inggris melawan tak kurang 17 ribu prajurit Sultan dan pengikutnya di dalam maupun luar benteng.

"Semangat heroik dan budi luhur menjadi karakteristik khas tentara Inggris," puji Thorn dalam bukunya.

"Kaum perempuan di bagian dalam istana diperlakukan sangat hormat, dan harta kekayaan di sana juga dilindungi," lanjutnya. "Tak ada satupun orang dilecehkan, dan tak ada perkosaan terjadi," tulis Thorn lagi.


BETULKAH DEMIKIAN ? :

Dr Peter Carey, spesialis peneliti Diponegoro dan masa-masa sekitarnya menceritakan berbeda.

Di buku jilid 1 Kuasa Ramalan, Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti.

Ketika garda terdepan pasukan Inggris mencapai Srimanganti, Sultan dan keluarga besarnya, dan orang-orang terdekatnya terlihat mengenakan pakaian serba putih.

Mereka membiarkan ketika senjata-senjata pusakanya dilucuti secara kasar oleh para prajurit Inggris dan Sepoy.

Sultan diamankan perwira Inggris, Letnan Henry N Douglas dari Resimen Infantri Highland ke-78. Permintaan Sultan untuk membawa pusaka keraton ditolak Gillespie, yang kemudian menyitanya.

Pusaka yang disita terdiri keris Kiai Paningset, Kiai Sengkelat, Kiai Urub, dan Kiai Jinggo.

Tiga keris pusaka utama, yaitu Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, Kiai Mesem, yang semula disita Gillespie, dikembalikan ketika penobatan Rm. Suraja sebagai Sultan HB III.


Sesudah itu Sultan dan keluarganya digiring dari keraton ke Wisma Residen.

Mereka digiring dan diapit barisan serdadu Inggis dan Sepoy dengan pedang terhunus dan sangkurnya terpasang di senapan.

Tatkala rombongan masuk Wisma Residen, Raffles menyambutnya dengan rasa puas.

Rupa rupanya disitu telah hadir para pangeran yang membelot ada juga Pangeran Natakusuma, yang melihat kehadiran Sultan dengan dingin.


Sultan kemudian dipaksa menyerahkan keris dan perhiasan milik mereka.

Air mata Sultan menetes di hadapan banyak orang, termasuk sang Putra Mahkota ( Mangkudiningrat ) yang telah tertawan. Saat itu pukul 8 pagi, 20 Juni 1812.


Pedang dan keris Sultan diambil Raffles dan dikirim sebagai tanda mata ke Lord Minto di Kalkuta, India. 

Pengiriman pedang dan keris itu sekaligus simbol penyerahan total kasultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Inggris.


Ketika Sultan sudah dimasukkan tahanan bersama putra kesayangannya, ( Pangeran Mangkudiningrat,) para prajurit penjaga mencopoti kancing-kancing berlian di pakaian Sultan yang ditanggalkan.


PENJARAHAN HARTA KERATON.

Raffles sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Jawa melaporkan hal ihwal penguasaan harta-harta kerajaan itu ke Lord Minto.


Sesudah keraton dikuasai, semua penghuni pentingnya ditawan, Gillespie membagi-bagi harta rayahan. Ia mendapatkan bagian terbesar uang sebanyak 15.000 pound (1,5 juta poundsterling di masa sekarang). Sisanya dibagi ke para perwira dan prajuritnya.


Pangeran Prangwedono yang memimpin Legiun Prangwedono (Mangkunegaran), menerima bagian 140 ribu poundsterling. Tak terhitung lagi harta karun naskah kuno, benda antik, emas, perak, intan berlian yang turut dirampas pasukan Raffles.

Raden Ayu Wandan, istri Pangeran Mangkudiningrat diperlakukan kasar.

Semua perhiasan dan pakaian kebesarannya dilucuti, hingga ia tampak memelas di hadapan para prajurit.


Penggeledahan habis-habisan juga dilakukan di kediaman Ratu Kencono Wulan.

Sang Ratu diyakini menyimpan perhiasan dalam jumlah besar dan intan sebesar jempol kaki. Ratu membantah, dan hanya menyerahkan sekantung berlian.

Namun Intimidasi kasar membuat sang Ratu bertekuk lutut dan menyerahkan cincin intan besar, yang disembunyikan di dasar sumur kediamannya.


Menurut Babad GEGER SEPEHI, penjarahan terus berlangsung hingga empat hari lamanya.

Barang-barang rampasan keraton diangkut menggunakan pedati dan kuli panggul.

Sejumlah bangsawan keraton dipaksa ikut jadi kuli panggul, menggotong kotak-kotak berisi barang pusaka ke Wisma Residen.

Paling banyak yang diangkut alat persenjataan, wayang, gamelan keraton, arsip dan naskah- naskah kuno berupa babad, surat daftar tanah dan lain sebagainya. Raffles kemudian menggunakan pengetahuan dan wawasan Pangeran Natakusuma di bidang sastra untuk memilah dan menginventarisasi naskah tersebut sebelum dibawa ke Inggris.


Semua naskah kuno hasil rampokan dari keraton diangkut ke Inggris, kecuali satu babad berisi daftar raja-raja Jawa yang diserahkan Raffles ke Pangeran Notokusumo ( Pakualam I )

Sebagian koleksi naskah Jawa dan nusantara itu kini disimpan di British Library dan Royal Asiatic Society.(xna)


Pada masa ini pula, Pangeran Natakusuma diberikan status sebagai pangeran merdeka dan memiliki wilayah sendiri. Pangeran Natakusuma diberikan tanah seluas 4000 cacah, dan kemudian memperoleh gelar Pangeran Pakualam I. Wilayahnya ditetapkan sebagai kadipaten dan dinamakan Pakualaman. Sri Sultan Hamengku Buwono II sendiri kemudian diasingkan ke Penang.


Pada 1 Agustus 1812, pemerintah Inggris mengeluarkan peraturan untuk Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang sangat merugikan bagi bangsawan-bangsawan Jawa. Perjanjian tersebut antara lain : 

1. Memangkas kekuatan militer kerajaan sampai sebatas yang disetujui Inggris. 

2. Beberapa wilayah mancanegara dan negaragung,seperti Mojokerto, Jipang, dan Grobogan, diambil paksa sehingga membuat para pejabat yang mengatur di sana kehilangan jabatan dan kekuasaan. 

3. Pengelolaan gerbang-gerbang cukai jalan dan pasar masuk ke kas pejabat Inggris, ini tidak hanya menghilangkan pendapatan dari pungutan tetapi juga membuat perdagangan dikuasai oleh pihak asing. 

4. Inggris juga menentukan bahwa semua orang asing dan orang Jawa yang dilahirkan di luar wilayah kerajaan berada dalam hukum kolonial. Mereka tidak lagi dapat diadili di bawah hukum Jawa-Islam.


Kebijakan-kebijakan tersebut membuat pergolakan besar di masyarakat Jawa. Ketidakpuasan dan rasa kekecewaaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu Perang Jawa (1825-1830). Geger Sepehi tidak hanya sebuah sejarah kekalahan yang meruntuhkan kewibawaan para raja-raja Jawa yang dibungkus dengan berbagai mitos kesaktian dan energi supranatural dari nyai Roro kidul, namun juga menjadi tonggak lahirnya tata dunia baru di tanah Mataram.


Daftar Pustaka:

Kompas, 2008. Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas . 200 Tahun Anjer-Panaroekan . Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Darda Syahrizal, SH, 2011. Kasus-kasus Hukum Perdata di Indonesia . Yogyakarta: Penerbit Pustaka Ghratama.

Peter Carey, 1980. Arsip Yogyakarta, Vol. 1. Dokumen Terkait Politik dan Pengadilan Internal , New York: Oxford University Press.

Peter Carey, 2008. Kekuatan Nubuat , Leiden: KITLV Press.

William Thorn, Mayor. 1815. Memoir of Conquest of Java . London: T. Egerton, Libary Militer, Whitehaal

MC Ricklefs, 2001. Sejarah Indonesia Modern sejak c. 1200 Edisi Ketiga . Hampsire: Palgrave


Gambar :

Pasukan Sepoy ( lidah Jawa jadi SEPEHI ).

Orang-orang India yang dipekerjakan sebagai tentara bayaran oleh Inggris.

Hamengkubuwono II

Hamengkubuwono II ( seri Amangkurat ): Pangeran mangkudiningrat, Raden mas. Suraja, Pangeran Natakusuma dan Geger SEPEHI.

Oleh: Anggoro Ruwanto

PANGERAN MANGKUDININGRAT.

Mangkudiningrat adalah anak kesayangan Hamengkubuwana II dari Kanjeng ratu Hemas, dialah yang digadang-gadang / dikehendaki oleh Hamengkubuwono II sebagai putera mahkota yang kelak menggantikan dirinya, Kecintaan HB II terhadap Mangkudiningrat ini terlukis dalam buku Kuasa Ramalan karya Peter Carey.

Namun hubungannya yang buruk dengan Belanda dimanfaatkan oleh salah satu istrinya, yakni GKR Kedaton yang bekerja sama dengan Patih Danureja I melobi Belanda, supaya putera nya ( Rm. Suraja ) yang diangkat sebagai putera mahkota.

Jadilah Belanda mengangkat Rm. Suraja menjadi Sunan Hamengkubuwono III. 

Saat Belanda dikalahkan Inggris, Sultan Hamengkubuwono II naik kembali ketahtanya, Rm. Suraja kembali ke kedudukannya semula sebagai putera mahkota. Karena Pangeran Mangkudiningrat tidak mau terlibat dalam konflik Keraton antara Ibu tirinya yaitu GKR. Kedaton, dan ibunya sendiri, GKR Hemas, serta Patih Danureja I yang cukup punya pengaruh dilingkungan istana.

Ketika Sultan Hamengkubuwono II dibuang oleh Inggris ke Penang lalu ke Ambon - Ternate, dia didampingi oleh putera kesayangannya yaitu Pangeran Mangkudiningrat. 

Sampai Makam Mangkudiningrat juga bersebelahan dengan makam Sultan Hamengkubuwono II di Kotagede ( satu-satunya raja yang tidak dimakamkan di Imogiri ).


PANGERAN NOTOKUSUMO :

Pangeran Notokusumo, saudara Sultan Hamengkubuwono II yang lahir dari lain ibu. Notokusumo ini kelak bergelar Paku Alam I.

Mudahnya Inggris menyerbu keraton itu berkat adanya informasi yang diberikan Pangeran Notokusumo.

Kompensasi dari peran itu, Notokusumo kemudian diangkat menjadi pangeran mardiko (merdeka) dan diberi tanah seluas 4.000 cacah. Yang diambilkan dari tanah Pakubuwana IV. Notokusumo kemudian naik takhta sebagai KGPAA Paku Alam I berdasarkan politik kontrak dengan Inggris 17 Maret 1813.

( Inilah sepintas pengulangan sejarah untuk memperjelas peran Mangkudiningrat dan Paku Alam I yang sebelumnya bisa dibaca dipostingan saya bagian 19 dan 20. )


GEGER SEPEHI.

Geger Sepehi merupakan peristiwa penyerbuan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh pasukan Inggris pada tanggal 19-20 Juni 1812. Nama sepehi berasal dari pasukan Sepoy ( Orang-orang India ) yang dipekerjakan oleh Inggris sebagai tentara bayaran.


PIHAK PIHAK YANG TERLIBAT.

Tentara Inggris dan Sepoy Yang dikomandani oleh :

1. Thomas Stamford Raffles

    John Crawfurd

    Robert Gillespie

    ( Dibantu )

2. Tentara Pangeran Natakusuma dan panglima nya Tan Jin Sing.


Tentara kesultanan Jogjakarta dikomandani oleh : 

Mangkunegara II

Sultan Hamengkubuwana II

KRT Sumadiningrat.


Kekuatan

Inggris lebih dari 1000 pasukan.

Jogjakarta kurang dari 7000 pasukan

Korban :

Pasukan Inggris:

23 tewas termasuk seorang perwira

74 luka.

Tentara Keraton:

tidak ada datanya.


LATAR BELAKANG : 

Setelah Belanda takluk dan meninggalkan wilayah Hindia Belanda, maka Hindia-Belanda di bawah kekuasaan Inggris (1811), Sultan Hamengkubuwana II kembali menduduki tahta Kesultanan Yogyakarta. Sementara itu, Hamengkubuwana III kembali menjadi putera mahkota setelah membuat perdamaian dengan ayahnya pada tanggal 5 November 1811. Namun, kedatangan Inggris ditentang oleh keraton-keraton di Jawa (Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) yang mengadakan perjanjian rahasia untuk melawan Inggris. Ketegangan yang memuncak membuat John Crawfurd (residen Inggris di Yogyakarta) menghubungi putera mahkota ( Rm. Suraja / eks Hamengkubuwono III,) melalui perantaraan Pangeran Diponegoro. Pihak Inggris bermaksud untuk mengangkat putera mahkota kembali menjadi sultan karena memiliki sikap lebih ramah dan penurut dibandingkan ayahnya yang kaku. Di lain pihak, Sultan Hamengkubuwana II bermaksud membujuk Inggris untuk mengganti kedudukan putera mahkota kepada MANGKUDININGRAT ( putera kesayangannya dari istrinya GKR Hemas.) Putera mahkota sendiri ( Rm. Suraja ) dikisahkan dalam Babad Bedhahing Ngayogyakarta atau Babad Ngengreng karya Bendara Pangeran Harya Panular dan tinjauan Residen Valck tidak berniat merebut kekuasaan - bersikap pasif. meskipun keselamatan dirinya terancam oleh ayahnya. Itulah sebabnya dirinya masih berada di keraton pada saat Inggris menyerang.


JALANNYA PEPERANGAN :

Pada tanggal 13 Juni 1812, lebih dari 1000 orang pasukan Inggris (setengahnya Sepoy) memasuki Benteng Vrederburg secara diam-diam di malam hari. Raffles baru tiba di jogjakarta 4 hari kemudian, yairu pada tanggal 17 Juni 1812. 

Keesokan harinya pada pukul lima pagi, keluarga Pangeran Natakusuma mengungsi ke benteng Van den Burgh yang dikuasi Inggris. sementara pengikutnya memakai kain putih di lengan kiri sebagai tanda pengenal bahwa mereka sekutu Inggris. 

Namun paada hari itu juga, pasukan penyergap yang dipimpin Raden Harya Sindureja berhasil menyergap pasukan kavaleri Inggris dan mengalahkan nya, hal ini menjadi satu-satunya kesuksesan pasukan keraton dalam menghadapi Inggris.


Pada hari yang sama, Raffles mengultimatum Sultan untuk menyerahkan kedudukan kepada putera mahkota ( Rm. Suraja ) tapi ditolak oleh sultan. Pada tanggal 19 Juni 1812, pasukan Inggris mulai membombardir keraton sebagai peringatan, tetapi sultan mengabaikannya. Terjadi insiden pada bastion timur laut, di mana meriam Kyai Nagarunting meledak ketika ditembakkan, mengakibatkan beberapa pengawaknya (anggota brigade Setabel,/ pasukan artileri keraton) mengalami luka bakar. Sebuah gudang amunisi yang dijaga anggota brigade Bugis juga dilaporkan meledak terkena peluru meriam Inggris. 

Pertempuran utama terjadi pada tanggal 20 Juni 1812 yang dimenangkan oleh Inggris. Pada saat fajar keesokan harinya, pasukan Inggris menggunakan tangga-tangga bambu yang disiapkan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing untuk masuk ke dalam keraton. Selain itu, terjadi pula penembakan terhadap plengkung Tarunasura dan pintu Pancasura yang memperparah penyerbuan. 

Penyerangan tersebut mengakibatkan banyak keluarga Keraton Yogyakarta yang tewas, antara lain salah satu dari ketiga menantu sultan (KRT Sumadiningrat, panglima pasukan keraton) dan Ratu Kedaton ( ibunda Rm. Suraja ). 

Saat pasukan Inggris berhasil mengepung kedhaton (pusat keraton), Sultan Hamengkubuwana II menyerah dengan berpakaian serba putih. Seluruh perhiasan di tubuh sultan dan rombongannya dilucuti oleh pasukan Inggris.


Pasukan Inggris menjarah keraton dan mengambil naskah-naskah yang tersimpan untuk dibawa ke Inggris. Jumlah naskah-naskah yang dibawa diperkirakan lebih dari 7000 buah. Selain itu, perhiasan, keris, perangkat alat musik di dalam keraton diangkut ke kediaman residen menggunakan pedati dan kuli-kuli panggul. Namun, saat mengangkat Rm. Suraja jadi Sultan Hamengkubuwana III, pusaka keris dikembalikan lagi kepada keraton.


AKHIR DARI GEGER SEPEHI.

Hamengkubuwana III resmi diundang untuk "kembali mendiami keraton". Pada tanggal 22 Juni 1812, Karena jasa-jasanya Raffles mengangkat Natakusuma sebagai Paku Alam I yang menguasai wilayah Pakualaman. Pada tanggal 3 Juli 1812, Sultan HB II dan puteranya, yaitu Pangeran Mangkudiningrat, dipindahkan ke Semarang dan selanjutnya diasingkan ke Pulau Pinang. Lalu ke Ambon - Ternate dan kelak oleh Belanda dikembalikan kedudukannya sebagai Sultan jogjakarta kembali ( ada dibagian 19 & 21 )


Besok : GEGER SEPEHI ( Detailnya Pertempuran )


Referensi Sunting

^ a b c d e f Peter Carey. 2014. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Penerjemah: Bambang Murtianto. Editor: Mulyawan Karim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-799-8.

^ Ofita Purwanti. 2014. Javanese Power: Silent Ideology and Built Environment of Yogyakarta and Surakarta. Tesis. The University of Ediburg.

^ ABK. 15 Mei 2012. Sultan Minta Naskah Kuno Keraton Dikembalikan.